(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah menegaskan bahwa pembangunan ekosistem digital nasional merupakan fondasi utama dalam mewujudkan kemandirian teknologi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta ekonomi digital global menuju visi Indonesia Digital 2045.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, saat menutup acara peluncuran Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026 di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Nezar menjelaskan, forum DEAL 2026 telah menghasilkan pemetaan delapan prioritas pembangunan ekosistem digital nasional yang mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari peningkatan nilai tambah industri telekomunikasi hingga efisiensi logistik nasional. Menurutnya, spektrum penguatan ekosistem digital sangat luas dan membuka banyak peluang untuk meningkatkan daya saing nasional di setiap lapisan.
Ia menegaskan bahwa pembangunan ekosistem digital bukan sekadar agenda sektoral, melainkan bagian integral dari strategi besar Indonesia Digital 2045. Tahapan yang dilakukan saat ini akan sangat menentukan kemampuan Indonesia dalam mencapai kemandirian teknologi pada momentum satu abad kemerdekaan.
Dalam konteks tersebut, Nezar menekankan pentingnya kolaborasi sebagai kunci utama. Seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, industri, akademisi, maupun komunitas teknologi, perlu menginternalisasi dan mengeksekusikan kolaborasi secara konsisten.
Ia juga menyoroti pentingnya pembelajaran dari negara lain, seperti India, yang berhasil membangun fondasi ekonomi digital melalui penguatan infrastruktur publik digital secara sistematis. Implementasi sistem identitas digital Aadhaar dan Unified Payments Interface (UPI) dinilai mampu mempercepat pertumbuhan layanan keuangan digital sekaligus memperkuat ekosistem digital nasional. Model tersebut menunjukkan bahwa pembangunan lapisan dasar ekosistem digital yang kuat menjadi prasyarat sebelum pengembangan layanan bernilai tambah.
Lebih lanjut, Nezar menekankan bahwa pembangunan ekosistem digital membutuhkan pendekatan menyeluruh atau full stack, mencakup infrastruktur fisik dan digital, platform, hingga aplikasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan dunia usaha.
Selain memperkuat fondasi domestik, Indonesia juga perlu mulai merancang strategi untuk masuk ke dalam rantai pasok global ekonomi digital. Tantangan utama saat ini adalah bagaimana Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga bertransformasi menjadi produsen dan inovator.
Dalam hal ini, perkembangan kecerdasan artifisial (AI) menjadi sorotan penting. Nezar mengakui bahwa posisi Indonesia dalam industri AI global masih berada pada tahap awal dan belum menempati peran strategis dalam rantai pasok global. Indonesia saat ini masih lebih banyak berperan sebagai pengguna dan pasar teknologi.
Oleh karena itu, pembangunan ekosistem digital nasional perlu diarahkan pada tujuan strategis yang jelas agar seluruh pemangku kepentingan memiliki orientasi yang sama dalam pengembangan teknologi.
Pemerintah, lanjutnya, akan terus mendorong pembagian peran yang seimbang antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas teknologi, termasuk menghadirkan regulasi yang mampu mempercepat inovasi sekaligus mengantisipasi risiko dari emerging technologies.
Nezar optimistis bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan daya saing digital apabila kolaborasi lintas sektor dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan. Potensi ekonomi digital Indonesia yang terus tumbuh juga menjadi modal penting dalam memperkuat posisi Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
Ia menyebutkan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 105 miliar dolar AS pada 2026 dan berpotensi meningkat menjadi 260 hingga 360 miliar dolar AS dalam beberapa tahun mendatang. Bahkan, kontribusi Indonesia terhadap ekonomi digital ASEAN diperkirakan mencapai sekitar 40 persen dari total nilai ekonomi digital kawasan yang diproyeksikan menembus satu triliun dolar AS.
Menurutnya, potensi besar tersebut tidak boleh berhenti sebagai angka dalam proyeksi semata, melainkan harus diwujudkan melalui kerja sama konkret yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan dunia usaha.
Nezar berharap forum DEAL 2026 dapat menghasilkan kolaborasi yang terukur dan berkontribusi langsung dalam memperkuat daya saing serta pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Penguatan ekosistem digital nasional ini juga sejalan dengan pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam mendorong transformasi digital, hilirisasi, inovasi teknologi, serta peningkatan daya saing global. Upaya tersebut sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia unggul yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memperkuat kedaulatan digital nasional menuju Indonesia Emas 2045.








