(Vibizmedia-Kolom) Perang antara Amerika Serikat dan Iran telah menyingkap kerentanan besar dalam perekonomian global dan gangguan di titik-titik sempit jalur pelayaran strategis, seperti Selat Hormuz, dapat menimbulkan kekacauan bagi perdagangan internasional.
Penutupan Selat Hormuz sempat mendorong lonjakan harga energi di seluruh dunia, memicu dampak yang dirasakan di berbagai tempat, mulai dari pabrik-pabrik di India hingga stasiun pengisian bahan bakar di Louisiana.
Meskipun kesepakatan damai antara kedua negara sempat menjanjikan pembukaan kembali jalur tersebut, Iran pada Sabtu menyatakan telah kembali menutup Selat Hormuz. Namun, militer Amerika Serikat membantah pengumuman Teheran tersebut dan mengatakan lalu lintas pelayaran masih terus berlangsung.
Krisis yang masih berlangsung ini menyoroti kekhawatiran terhadap titik-titik kemacetan perdagangan lainnya di Asia, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Jalur-jalur pelayaran seperti Selat Malaka dan Terusan Panama memegang peranan penting dalam distribusi energi serta barang konsumsi ke seluruh dunia, namun juga rentan terhadap gejolak geopolitik berikutnya.
Selat Hormuz
Selat Hormuz merupakan urat nadi utama perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pengiriman minyak global serta sebagian besar pasokan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional tersebut. Arus energi melalui selat ini sangat penting bagi negara-negara Asia, terutama Korea Selatan dan Jepang.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran sempat membatasi pergerakan kapal melalui selat ini dan menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian dunia. Bahkan sebelum Iran kembali mengumumkan penutupan jalur tersebut pada akhir pekan—dengan alasan Washington gagal menghentikan bentrokan di Lebanon—para pakar telah memperingatkan bahwa arus pelayaran kemungkinan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk kembali normal setelah proses perundingan damai.
Selat Malaka
Menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, Selat Malaka merupakan jalur laut tercepat bagi pasokan energi dari Timur Tengah menuju Asia. Selat ini menjadi titik transit minyak terbesar di dunia, dengan sekitar 23,2 juta barel minyak melintasi perairannya setiap hari pada paruh pertama 2025, menurut U.S. Energy Information Administration. China menjadi salah satu negara yang paling bergantung pada jalur ini, dengan impor hampir 8 juta barel minyak mentah per hari melalui Selat Malaka pada paruh pertama tahun lalu.
Pentingnya Selat Malaka semakin mendapat sorotan setelah penutupan Selat Hormuz, ditambah pernyataan Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa pada April lalu yang sempat mengemukakan gagasan mengenakan tarif bagi kapal-kapal yang melintas di jalur tersebut. Namun, pejabat Indonesia kemudian menarik kembali pernyataan tersebut.
Terusan Panama
Terusan Panama merupakan jalur penting bagi perdagangan yang keluar masuk pelabuhan-pelabuhan Amerika Serikat. Menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Atlantik, jalur air buatan ini menangani sekitar 40% lalu lintas kontainer Amerika Serikat, dengan nilai perdagangan mencapai sekitar 270 miliar dolar AS setiap tahun, menurut U.S. Federal Maritime Commission.
Terusan Panama juga menjadi bagian dari ketegangan antara Amerika Serikat dan China setelah Presiden Donald Trump menyatakan keinginannya untuk mengambil kembali kendali atas terusan tersebut sekaligus mengkritik keterlibatan Beijing di kawasan itu. Sebelum Mahkamah Agung Panama membatalkan kontraknya pada Januari, konglomerat asal Hong Kong, CK Hutchison, mengoperasikan dua pelabuhan di kedua ujung terusan tersebut.
Terusan Suez
Terusan Suez di Mesir menyediakan jalur pelayaran utama yang menghubungkan Asia dengan Eropa dan menjadi lintasan penting bagi pengiriman energi maupun kapal kontainer. Jalur ini merupakan titik transit minyak terbesar ketiga di dunia, dengan hampir 5 juta barel minyak mentah melintas setiap hari pada paruh pertama 2025, menurut EIA.
Pada 2021, kapal kontainer sepanjang sekitar 400 meter bernama Ever Given kandas dan menyumbat Terusan Suez selama enam hari, menyebabkan gangguan besar terhadap rantai pasok global.
Selat Turki
Selat Turki merupakan jalur perairan yang menghubungkan Laut Hitam dengan Laut Mediterania. Jalur ini menjadi saluran utama bagi ekspor minyak dari negara-negara seperti Rusia dan Kazakhstan, serta pengiriman gandum dari Ukraina menuju pasar dunia.
Sejak pecahnya perang Ukraina, kawasan ini terus menjadi bagian dari dinamika geopolitik. Sanksi Barat terhadap ekspor minyak Rusia pada 2022 sempat memicu kemacetan lalu lintas kapal di jalur tersebut.
Selat Bab el-Mandeb
Terletak di antara Yaman dan Djibouti, Selat Bab el-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan merupakan jalur penting bagi distribusi minyak dari Timur Tengah.
Pada musim semi tahun ini, Iran sempat mengancam akan menutup selat tersebut dengan dukungan kelompok Houthi yang menjadi sekutunya di Yaman.
Dampak Bagi Indonesia
Bagi Indonesia, gangguan pada sejumlah chokepoint perdagangan dunia seperti Selat Hormuz, Selat Malaka, Terusan Suez, dan Terusan Panama tidak hanya berdampak pada perdagangan internasional, tetapi juga dapat memengaruhi stabilitas ekonomi domestik. Dampaknya dapat dijelaskan dalam beberapa aspek berikut.
Pertama, kenaikan harga energi. Indonesia memang telah meningkatkan produksi energi domestik, tetapi masih mengimpor minyak mentah, BBM, dan LPG dalam jumlah besar. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Jika jalur tersebut terganggu, harga minyak dunia cenderung melonjak. Akibatnya, biaya impor energi Indonesia meningkat, subsidi energi berpotensi membengkak, atau harga BBM domestik bisa mengalami tekanan untuk naik apabila pemerintah tidak menambah subsidi.
Kedua, tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Ketidakpastian geopolitik biasanya mendorong investor global beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan emas. Arus modal yang keluar dari negara berkembang dapat melemahkan rupiah. Rupiah yang lebih lemah kemudian membuat biaya impor, terutama energi dan bahan baku industri, menjadi lebih mahal.
Ketiga, biaya logistik dan perdagangan meningkat. Gangguan di Selat Hormuz, Terusan Suez, maupun Selat Bab el-Mandeb dapat memaksa kapal memutar melalui rute yang lebih panjang. Hal ini meningkatkan konsumsi bahan bakar kapal, premi asuransi, serta biaya pengiriman. Indonesia sebagai negara yang bergantung pada perdagangan internasional akan menghadapi kenaikan ongkos impor bahan baku maupun ekspor produk manufaktur.
Keempat, tekanan terhadap inflasi. Kenaikan harga energi dan biaya logistik biasanya akan diteruskan ke harga barang. Harga pangan impor, bahan baku industri, hingga produk konsumsi dapat meningkat. Jika berlangsung lama, inflasi domestik berpotensi naik sehingga mengurangi daya beli masyarakat.
Kelima, dampak terhadap industri manufaktur. Banyak industri Indonesia, seperti otomotif, elektronik, tekstil, dan petrokimia, masih mengandalkan bahan baku impor. Keterlambatan pengiriman akibat kemacetan di jalur pelayaran strategis dapat mengganggu produksi, meningkatkan biaya operasional, bahkan mengurangi daya saing ekspor.
Keenam, peluang bagi pelabuhan dan sektor maritim Indonesia. Di sisi lain, Indonesia memiliki posisi strategis karena berada di sekitar Selat Malaka dan jalur pelayaran Asia. Dalam jangka panjang, apabila pemerintah mampu meningkatkan kapasitas pelabuhan, efisiensi logistik, serta konektivitas antarpulau, Indonesia dapat memperoleh manfaat sebagai pusat distribusi regional ketika perusahaan global berupaya mendiversifikasi rantai pasok mereka.
Chokepoint yang paling penting bagi Indonesia
Bagi Indonesia, Selat Malaka memiliki arti yang paling strategis. Jalur ini menjadi pintu utama perdagangan Indonesia dengan China, Jepang, Korea Selatan, India, Timur Tengah, dan Eropa. Sebagian besar ekspor seperti batu bara, minyak sawit, serta produk manufaktur, maupun impor bahan baku dan energi, melintasi selat tersebut. Gangguan di Selat Malaka berpotensi memberikan dampak yang lebih langsung dibandingkan gangguan di Terusan Panama.
Namun, Selat Hormuz tetap memiliki pengaruh besar karena menentukan harga energi global. Meskipun kapal pengangkut menuju Indonesia tidak selalu berangkat dari Teluk Persia, lonjakan harga minyak akibat gangguan di Hormuz akan dirasakan hampir semua negara, termasuk Indonesia.









