Menyusuri Hutan Kemenyan Tapanuli, Menjaga Warisan Alam dan Penghidupan Masyarakat

0
53
Hutan Kemenyan
Aliran Sungai Aek Raisan di Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara digunakan sebagai sumber energi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH). FOTO: VIBIZMEDIA.COM/FADJAR

(Vibizmedia-Kolom) Perjalanan menyusuri hutan di Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan memberikan pengalaman yang sulit dilupakan. Di kawasan sepanjang Sungai Batang Toru hingga Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan, termasuk di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Sisira, hamparan hutan pegunungan masih berdiri kokoh. Di antara beragam vegetasi hutan hujan tropis, pohon-pohon kemenyan tumbuh secara alami, tidak tersusun seperti perkebunan komersial, melainkan menyatu dengan ekosistem yang telah terbentuk selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Pengalaman tersebut mengubah cara pandang saya terhadap kemenyan. Selama ini banyak orang mengenal kemenyan hanya dari aromanya atau penggunaannya dalam ritual keagamaan dan budaya. Namun, ketika berada langsung di tengah hutan Tapanuli, saya melihat bahwa kemenyan sesungguhnya adalah bagian dari lanskap hutan yang hidup. Pohon-pohon itu berdiri di lereng-lereng bukit, di dekat aliran sungai, dan menjadi bagian dari bentang alam yang selama ini dijaga masyarakat Batak.

Kesan yang saya peroleh di lapangan semakin kuat ketika melihat kehidupan petani kemenyan di Desa Rura Julu Dolok, Tapanuli Utara. Di desa yang berada di antara perbukitan tersebut, tradisi menyadap kemenyan masih dijalankan secara turun-temurun. Salah satu petaninya adalah Rospita Boru Sianturi yang telah berusia 73 tahun. Meski usia tidak lagi muda, ia masih berjalan sekitar lima belas menit menuju hutan kemenyan yang menjadi sumber penghidupan keluarganya.

Dengan menggunakan tali tradisional yang dikenal sebagai tali polang, Opung Rospita memanjat batang pohon untuk menyadap resin. Tali itu diikatkan pada batang sebagai pijakan sehingga petani dapat mencapai bagian batang yang akan dilukai. Pekerjaan tersebut membutuhkan ketelitian sekaligus keberanian. Salah satu risiko terbesar adalah apabila tali mengalami kerusakan saat digunakan untuk memanjat pohon yang tingginya dapat mencapai belasan meter.

Bagi masyarakat Tapanuli, pohon kemenyan bukan sekadar tanaman penghasil resin. Pohon ini merupakan warisan leluhur yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Berbeda dengan berbagai komoditas perkebunan yang membutuhkan pembukaan lahan dalam skala luas, kemenyan justru tumbuh secara alami di hutan pegunungan. Para petani tidak perlu mengubah hutan menjadi kebun monokultur. Mereka cukup menjaga kebersihan semak di sekitar batang pohon agar pertumbuhannya tetap baik.

Apa yang saya lihat di sepanjang perjalanan di kawasan Batang Toru maupun Humbang Hasundutan ternyata memperlihatkan prinsip yang sama. Keberadaan pohon kemenyan justru mendorong masyarakat mempertahankan tutupan hutan. Semakin baik kondisi hutan, semakin baik pula produktivitas pohon kemenyan. Dengan kata lain, kelestarian hutan menjadi modal utama bagi keberlangsungan ekonomi masyarakat.

Selain memberikan manfaat ekonomi, kemenyan juga memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Pohon-pohon tersebut membantu menjaga tutupan lahan, mempertahankan keseimbangan ekosistem pegunungan, serta berperan dalam proses reboisasi pada kawasan-kawasan yang rentan mengalami degradasi. Karena itulah, keberadaan hutan kemenyan sesungguhnya menjadi contoh bagaimana pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Proses memperoleh resin kemenyan membutuhkan kesabaran. Petani terlebih dahulu melukai batang pohon agar getah keluar secara perlahan. Resin yang baru muncul tidak boleh disentuh karena masih sangat lengket. Getah tersebut kemudian dibiarkan mengering di batang pohon hingga berubah warna dan mengeras.

Siklus produksi kemenyan berlangsung cukup panjang. Setelah batang disadap, petani baru dapat memanen resin sekitar lima bulan kemudian. Sebagai contoh, penyadapan yang dilakukan pada bulan Mei biasanya menghasilkan panen pada Oktober. Dalam kondisi cuaca yang mendukung, panen dapat dilakukan sedikit lebih awal, yakni sekitar September.

Musim juga sangat menentukan hasil produksi. Pada awal hingga pertengahan tahun, jumlah resin yang dihasilkan relatif sedikit. Sebaliknya, Oktober hingga Desember menjadi musim panen terbaik. Pada masa tersebut, sebagian petani bahkan memilih bermalam di hutan agar proses penyadapan dan pemanenan dapat dilakukan secara lebih intensif.

Setelah dipanen, resin tidak langsung dipasarkan. Hasil panen terlebih dahulu dijemur selama sekitar tiga minggu di tempat yang teduh. Penjemuran tidak boleh dilakukan di bawah sinar matahari langsung karena resin dapat menjadi lunak dan kualitasnya menurun. Setelah kurang lebih satu bulan, resin mengeras sempurna sebelum dibersihkan dari sisa-sisa kulit kayu menggunakan alat cungkil.

Petani kemudian memilah resin berdasarkan kualitasnya. Resin berukuran besar dengan warna putih dikenal sebagai Nauli dan memiliki harga sekitar Rp300.000 per kilogram. Sementara resin berukuran lebih kecil yang disebut Tahir dipasarkan sekitar Rp150.000 per kilogram. Perbedaan ukuran, warna, dan tingkat kebersihan menjadi penentu utama nilai jual kedua jenis resin tersebut.

Hingga kini sebagian besar resin masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah yang dikenal sebagai benzoin Toba. Produk tersebut dikirim ke berbagai wilayah, mulai dari Sumatera hingga Jawa, Kalimantan, dan Bali. Padahal, nilai tambah yang jauh lebih besar sebenarnya dapat diperoleh apabila resin diolah menjadi produk jadi.

Pemanfaatan kemenyan sesungguhnya sangat luas. Selain digunakan dalam berbagai kegiatan peribadatan, resin ini menjadi bahan baku industri parfum, kosmetik, dan obat-obatan. Kandungan aromatik serta sifat antimikrobanya menjadikan kemenyan memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri berbasis sumber daya hayati.

Potensi tersebut mulai mendapat perhatian melalui berbagai pelatihan yang melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Salah satunya adalah pelatihan pembuatan parfum berbahan dasar kemenyan. Langkah ini membuka peluang agar masyarakat tidak lagi hanya menjual resin mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk turunan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Perubahan lain juga mulai terlihat melalui pemanfaatan media digital. Devi Khalid, cucu Opung Rospita, memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan kehidupan petani kemenyan kepada masyarakat luas. Melalui berbagai konten yang dibuatnya, masyarakat dapat melihat proses penyadapan, kehidupan di hutan, hingga pengolahan resin yang selama ini jarang diketahui publik.

Respons masyarakat ternyata cukup besar. Banyak pengikutnya yang kemudian tertarik membeli kemenyan secara langsung. Penjualan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada rantai perdagangan tradisional. Melalui pemasaran digital, produk kemenyan dari desa dapat langsung menjangkau konsumen di berbagai daerah sekaligus memberikan harga yang lebih baik bagi keluarga petani.

Pengalaman menyusuri hutan-hutan di Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan membuat saya melihat hubungan yang sangat erat antara masyarakat dan alam. Hutan bukan sekadar kawasan hijau yang harus dilindungi, melainkan ruang hidup yang menyediakan sumber penghidupan. Pohon-pohon kemenyan menjadi bukti bahwa menjaga hutan tidak selalu bertentangan dengan kepentingan ekonomi. Justru hutan yang tetap lestari mampu menghasilkan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Di tengah berbagai tantangan perubahan penggunaan lahan dan meningkatnya kebutuhan ekonomi, hutan kemenyan memberikan pelajaran penting bahwa konservasi dapat berjalan berdampingan dengan kesejahteraan masyarakat. Dengan dukungan riset, hilirisasi industri, inovasi produk, serta pemasaran yang lebih luas, kemenyan Toba memiliki peluang untuk semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.

Warisan yang telah dijaga masyarakat Batak selama ratusan tahun ini bukan hanya menghasilkan resin beraroma khas. Di balik setiap tetes getah yang mengeras tersimpan cerita tentang hubungan manusia dengan hutan, tentang kesabaran dalam memanen hasil alam, dan tentang keyakinan bahwa kelestarian lingkungan adalah fondasi bagi kehidupan generasi mendatang. Itulah sebabnya, ketika berjalan kembali menyusuri hutan-hutan Tapanuli, saya tidak lagi melihat kemenyan sekadar sebagai komoditas, melainkan sebagai simbol bagaimana alam dan manusia dapat tumbuh serta bertahan bersama.