Karhutla Kembali Merebak, Enam Daerah Dilanda Kebakaran hingga 93 Hektare Lahan Terbakar

0
96
Karhutla
Kebakaran lahan di Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada Senin, 31 Agustus 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat enam kejadian karhutla dalam periode Minggu (30/8) hingga Senin (31/8), yang tersebar di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku Utara.

Enam wilayah yang dilanda karhutla yakni Kabupaten Klaten, Jawa Tengah; Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur; Kabupaten Pinrang dan Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan; serta Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara.

Jika ditotal berdasarkan luasan yang dilaporkan, sedikitnya 93,3 hektare lahan terdampak kebakaran.

Di Kabupaten Klaten, karhutla terjadi di Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, Minggu (30/8). Kebakaran yang mulai terjadi sekitar pukul 14.00 WIB menghanguskan sekitar 7,3 hektare lahan. Tim gabungan BPBD Kabupaten Klaten berhasil memadamkan api pada sore hari.

Kebakaran lebih luas terjadi di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Lahan di Kelurahan Makroman dan Pulau Atas, Kecamatan Sambutan, terbakar sejak Sabtu (29/8) dengan luas sekitar 12 hektare. Hingga Minggu, petugas BPBD bersama relawan masih melakukan pemadaman di sejumlah titik.

Di Kabupaten Kutai Kartanegara, kebakaran lahan di Desa Santan Ilir, Kecamatan Marangkayu, telah membakar sekitar 27 hektare lahan. Proses pemadaman menghadapi kendala karena sumber air berada cukup jauh dan kondisi angin kencang.

Meski secara visual tidak lagi terlihat kobaran api di sejumlah titik, petugas masih menemukan titik api di lokasi lainnya. Penyebab kebakaran masih diselidiki.

Sementara itu, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, mencatat salah satu kejadian dengan luasan terbesar. Karhutla terjadi di tiga wilayah, yakni Kelurahan Tellumpanua dan Watang Suppa di Kecamatan Suppa serta Desa Katomporang di Kecamatan Duampanua.

Total lahan yang terbakar mencapai sekitar 37 hektare, terdiri dari 2 hektare di Tellumpanua, 5 hektare di Watang Suppa, dan 30 hektare di Katomporang. Tim gabungan BPBD, Damkar, TRC, dan masyarakat berhasil memadamkan api pada Minggu (30/8).

Karhutla juga terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang, tepatnya di Desa Madenra, Kecamatan Kulo. Sekitar 6 hektare lahan terdampak kebakaran. Tim gabungan BPBD, Damkar, aparat desa, dan warga melakukan pemadaman untuk mencegah api meluas.

Di Maluku Utara, kebakaran melanda Desa Toboino, Kecamatan Wasile Timur, Kabupaten Halmahera Timur. Sekitar 4 hektare lahan terbakar pada Sabtu (29/8).

Hasil penyelidikan sementara mengindikasikan kebakaran diduga dipicu aktivitas pembersihan lahan dengan cara membakar tanpa pengawasan. Api kemudian berhasil dipadamkan oleh BPBD, Damkar, dan masyarakat.

BNPB meminta pemerintah daerah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla, terutama selama musim kemarau. Patroli di wilayah rawan, pemantauan titik panas, kesiapan personel dan peralatan, serta koordinasi lintas sektor perlu ditingkatkan untuk mencegah kebakaran berkembang semakin luas.

Masyarakat juga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga di wilayah terdampak disarankan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.

Jika menemukan titik api, masyarakat diminta segera melaporkan kepada BPBD, pemadam kebakaran, aparat setempat, atau pihak berwenang agar kebakaran dapat ditangani sedini mungkin.

Enam kejadian dalam dua hari ini menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla masih perlu diwaspadai, terutama ketika kondisi lahan semakin kering dan api mudah menyebar.