Digitalisasi Tambak Maros, Model Baru Internet Komunitas untuk Desa Tangguh

0
52
Foto: Kemkomdigi

(Vibizmedia – Jakarta) Transformasi digital tidak selalu harus dimulai dari kota-kota besar, pusat teknologi, atau perusahaan rintisan. Di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, teknologi justru berkembang dari kebutuhan nyata masyarakat: bagaimana menjaga produktivitas tambak sekaligus menghadapi tekanan perubahan iklim.

Pemanfaatan teknologi digital oleh masyarakat pembudidaya ikan di Maros mendapat apresiasi dari Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria. Menurutnya, inisiatif tersebut menunjukkan bahwa konektivitas internet akan memiliki arti yang jauh lebih besar ketika digunakan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya dan meningkatkan ketahanan ekonomi.

Apresiasi itu disampaikan Nezar saat membuka Rural ICT Camp 2026 di Unit Instalasi Tambak Silvofishery Marannu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Senin (14/9/2026).

Kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana internet komunitas dapat diarahkan menjadi sarana untuk memecahkan persoalan lokal, bukan sekadar menjadi akses untuk mengonsumsi informasi dan hiburan.

Digitalisasi dari Tambak

Salah satu praktik yang menjadi perhatian dalam Rural ICT Camp 2026 adalah pengembangan kawasan wanamina atau silvofishery. Konsep tersebut memadukan kegiatan budidaya perikanan dengan keberadaan ekosistem mangrove sehingga fungsi ekonomi dan ekologis dapat berjalan secara beriringan.

Pengembangan kawasan tersebut melibatkan kolaborasi masyarakat dengan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan serta Common Room.

Yang menarik, pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada pembangunan fisik tambak atau penanaman mangrove. Masyarakat mulai menggunakan instrumen digital untuk mengamati kondisi lingkungan secara lebih terukur.

Parameter seperti salinitas dan suhu dicatat secara berkala. Data yang terkumpul kemudian dapat digunakan untuk membaca pola perubahan kondisi tambak, melakukan evaluasi, serta membantu memperkirakan kondisi yang mungkin terjadi di masa mendatang.

“Kita menyaksikan bagaimana warga menggunakan teknologi digital untuk mengukur kadar garam, suhu, lalu mencatatnya sebagai big data dan membuat proyeksi ke depan. Ini adalah langkah penting kemandirian warga dalam menghadapi perubahan iklim,” ujar Nezar.

Bagi petambak, kemampuan membaca data lingkungan memiliki nilai praktis. Keputusan mengenai pengelolaan air, pemilihan komoditas, maupun tindakan mitigasi dapat dilakukan berdasarkan kondisi aktual, bukan semata-mata berdasarkan perkiraan.

Menghadapi Tekanan Perubahan Iklim

Perubahan iklim semakin menghadirkan persoalan langsung bagi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sumber daya alam.

Kemarau panjang, misalnya, dapat meningkatkan kadar salinitas air tambak. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi kondisi organisme yang dibudidayakan, termasuk ikan dan kepiting.

Dalam situasi seperti itu, informasi menjadi aset penting. Semakin cepat perubahan kondisi lingkungan diketahui, semakin cepat pula masyarakat dapat mengambil tindakan.

Di sinilah teknologi digital memperoleh fungsi yang lebih strategis. Sensor, pencatatan digital, konektivitas internet, pengolahan data, dan analisis sederhana dapat membantu mengubah kondisi lingkungan menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.

Pendekatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa teknologi tidak harus selalu identik dengan sistem yang mahal dan kompleks. Teknologi yang sederhana sekalipun dapat menghasilkan manfaat besar apabila benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Internet yang Memberdayakan

Nezar menekankan bahwa keberhasilan transformasi digital di tingkat akar rumput tidak seharusnya diukur dari banyaknya perangkat yang dibagikan atau jumlah aplikasi yang berhasil dibuat.

Ukuran yang lebih penting adalah perubahan yang terjadi pada kehidupan masyarakat.

“Ukuran keberhasilan kita bukan berapa banyak aplikasi yang dibuat atau berapa banyak perangkat yang dipasang. Ukurannya adalah apakah komunitas menjadi lebih berdaya, ekosistem lebih terjaga, dan penghidupan masyarakat menjadi lebih tangguh,” tegasnya.

Pandangan tersebut menempatkan masyarakat sebagai aktor utama transformasi digital, bukan sekadar penerima teknologi.

Dalam model seperti ini, warga tidak hanya menggunakan aplikasi yang dibuat oleh pihak luar. Mereka juga berperan dalam menentukan persoalan apa yang harus diselesaikan, data apa yang dibutuhkan, bagaimana data digunakan, dan sejauh mana teknologi memberikan manfaat.

Model tersebut menjadi penting bagi pembangunan digital di wilayah perdesaan. Infrastruktur konektivitas memang merupakan prasyarat, tetapi koneksi internet baru memiliki nilai pembangunan ketika masyarakat memiliki kemampuan dan ruang untuk menggunakannya secara produktif.

Rural ICT Camp sebagai Laboratorium Hidup

Dalam konteks tersebut, Rural ICT Camp 2026 memiliki posisi yang lebih luas daripada sekadar kegiatan pelatihan teknologi.

Kegiatan ini dapat menjadi ruang pertemuan antara komunitas lokal, pemerintah, peneliti, pendamping, praktisi teknologi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menguji bagaimana teknologi dapat diterapkan dalam kondisi nyata di pedesaan.

Karena itu, Nezar berharap lokasi Rural ICT Camp dapat berkembang menjadi living laboratory atau laboratorium hidup.

Konsep tersebut memungkinkan teknologi diuji langsung dalam lingkungan masyarakat, sekaligus dievaluasi berdasarkan dampaknya. Teknologi yang terbukti efektif dapat dikembangkan lebih lanjut, sementara pendekatan yang belum sesuai dapat diperbaiki berdasarkan pengalaman lapangan.

“Semoga dari tempat ini lahir model-model pemanfaatan internet yang dapat kita kembangkan untuk komunitas-komunitas lain di seluruh Indonesia,” pungkas Nezar.

Pendekatan living laboratory juga dapat menjadi jembatan antara inovasi dan kebutuhan masyarakat. Banyak teknologi berhasil secara teknis, tetapi belum tentu sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, budaya, maupun kemampuan pengguna di daerah.

Dengan mengujinya langsung bersama komunitas, proses pengembangan teknologi dapat menjadi lebih kontekstual.

Dari Maros untuk Desa-Desa Indonesia

Apa yang berkembang di Maros memiliki relevansi yang lebih luas. Indonesia memiliki ribuan desa dengan karakteristik geografis dan sumber penghidupan yang berbeda-beda. Sebagian bergantung pada pertanian, sebagian pada perikanan, kehutanan, perkebunan, pariwisata, dan berbagai kegiatan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Masing-masing menghadapi persoalan yang berbeda. Karena itu, transformasi digital di perdesaan tidak dapat menggunakan pendekatan yang sepenuhnya seragam.

Di daerah pesisir, misalnya, teknologi dapat diarahkan untuk pemantauan kualitas air, cuaca, pasang surut, rantai dingin, pemasaran hasil perikanan, hingga pencatatan produksi. Di sektor pertanian, konektivitas dapat mendukung pemantauan lahan, informasi cuaca, harga komoditas, hingga efisiensi penggunaan air dan pupuk.

Dengan kata lain, pembangunan konektivitas perlu berjalan beriringan dengan pembangunan kapasitas masyarakat untuk memanfaatkan koneksi tersebut.

Memperluas Jaringan ke Wilayah Nonkomersial

Pemerintah juga menegaskan komitmen untuk terus memperluas jaringan telekomunikasi ke wilayah-wilayah yang secara komersial belum menarik bagi operator.

Langkah tersebut penting karena kesenjangan digital tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidaknya sinyal. Persoalan berikutnya adalah apakah masyarakat memiliki akses terhadap perangkat, kemampuan digital, data yang relevan, serta ekosistem yang memungkinkan teknologi menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial.

Karena itu, pembangunan konektivitas perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan daerah.

Ketika internet tersedia dan dapat dimanfaatkan secara produktif, masyarakat di wilayah perdesaan memiliki peluang lebih besar untuk terhubung dengan pasar, pengetahuan, layanan publik, lembaga pendidikan, lembaga riset, serta jaringan ekonomi yang lebih luas.

Teknologi untuk Ketahanan Pangan

Pengalaman Maros juga memperlihatkan hubungan erat antara transformasi digital, ketahanan iklim, dan ketahanan pangan.

Sektor perikanan budidaya sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Kemampuan memantau perubahan parameter air secara lebih teratur dapat membantu masyarakat mengurangi risiko produksi dan menjaga keberlanjutan usaha.

Dalam jangka panjang, semakin banyak data yang dikumpulkan secara konsisten, semakin besar pula peluang untuk membangun sistem prediksi yang lebih baik. Data lokal bahkan dapat menjadi aset pengetahuan bagi komunitas apabila dikelola dengan baik dan dikembangkan menjadi basis pengambilan keputusan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa big data tidak selalu harus berasal dari perusahaan teknologi berskala besar. Data juga dapat tumbuh dari aktivitas masyarakat sehari-hari ketika dikumpulkan secara sistematis dan digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Mengubah Cara Melihat Transformasi Digital

Rural ICT Camp 2026 pada akhirnya menawarkan perspektif bahwa transformasi digital tidak semestinya hanya diukur dari seberapa cepat masyarakat mengadopsi teknologi terbaru.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: persoalan apa yang berhasil diselesaikan oleh teknologi tersebut?

Jika internet membantu petambak memahami perubahan salinitas, membantu masyarakat mengantisipasi dampak perubahan iklim, menjaga ekosistem mangrove, meningkatkan produktivitas, dan mempertahankan sumber penghidupan, maka teknologi telah menjalankan fungsi pembangunan yang sesungguhnya.

Dari Maros, model tersebut dapat menjadi contoh bagaimana teknologi digital ditempatkan sebagai instrumen pemberdayaan. Pemerintah menyediakan kebijakan dan konektivitas, peneliti memberikan pengetahuan, komunitas mengidentifikasi kebutuhan, sementara pelaku teknologi membantu menghadirkan solusi yang sesuai.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi digital Indonesia bukan hanya tentang seberapa banyak masyarakat yang terkoneksi ke internet. Ukurannya adalah seberapa jauh konektivitas tersebut membuat masyarakat lebih mandiri, lebih tangguh menghadapi perubahan iklim, lebih produktif, dan lebih mampu menentukan masa depannya sendiri.