Seberapa Jauh Pemanasan Bumi Akan Berlanjut?

0
79
Bumi Panas kekeringan
Ilustrasi Kekeringam..DOK: SERIKAT PETANI INDONESIA

(Vibizmedia-Kolom) Bumi mungkin merupakan tempat yang jauh lebih istimewa daripada yang selama ini dibayangkan manusia. Semakin banyak ilmuwan mempelajari alam semesta, semakin jelas bahwa planet yang mampu menyediakan air, udara, suhu yang relatif stabil, serta kehidupan dalam berbagai bentuk bukanlah sesuatu yang biasa. Di tengah miliaran objek di alam semesta, Bumi menjadi tempat yang memungkinkan kehidupan berkembang. Karena itu, perubahan yang sedang terjadi pada planet ini bukan sekadar persoalan angka dalam grafik suhu, melainkan menyangkut tempat yang selama ini menjadi rumah bagi seluruh kehidupan manusia.

Pertanyaan mengenai seberapa panas Bumi akan menjadi semakin penting ketika rekor suhu terus dipecahkan. Dalam podcast The Climate Question dari BBC World Service, ilmuwan iklim dan astrofisikawan Profesor Kate Marvel menjelaskan bahwa untuk menjawab pertanyaan tersebut, para ilmuwan menggunakan model iklim. Model ini pada dasarnya merupakan kumpulan persamaan yang menggambarkan bagaimana fisika dan kimia sistem Bumi bekerja. Persamaan tersebut kemudian dihitung menggunakan superkomputer untuk menghasilkan gambaran tentang kemungkinan kondisi planet pada masa depan.

Model iklim dapat dibayangkan sebagai mesin pembangun dunia. Para ilmuwan memasukkan sebuah cerita mengenai apa yang mungkin dilakukan manusia terhadap lingkungan, kemudian menerjemahkan cerita tersebut ke dalam emisi karbon dioksida, gas rumah kaca, aerosol, dan berbagai polutan lainnya. Model kemudian menghasilkan gambaran tentang dunia yang mungkin terbentuk, termasuk perubahan suhu, curah hujan, pola atmosfer, dan berbagai karakteristik iklim lainnya.

Namun, Marvel memberikan penekanan penting bahwa model iklim tidak membuat prediksi, melainkan proyeksi. Perbedaan ini sangat penting. Prediksi seolah-olah mengatakan bahwa sesuatu pasti akan terjadi, sedangkan proyeksi bersifat kondisional. Jika manusia terus meningkatkan emisi, maka kondisi tertentu dapat terjadi. Jika emisi dikurangi secara drastis, dunia yang terbentuk akan berbeda. Dengan demikian, masa depan iklim tidak hanya ditentukan oleh hukum fisika, tetapi juga oleh pilihan manusia.

Salah satu alasan mengapa angka pasti mengenai suhu Bumi di masa depan sulit diberikan adalah karena manusia belum pernah melakukan eksperimen sebesar ini sebelumnya. Aktivitas manusia telah meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dalam skala yang belum pernah dialami peradaban modern. Para ilmuwan memahami prinsip dasarnya dengan sangat baik. Karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya menahan panas dan meningkatkan suhu planet. Pengetahuan mengenai sifat gas rumah kaca bahkan sudah berkembang sejak abad ke-19.

Yang lebih sulit adalah mengetahui bagaimana seluruh sistem Bumi akan merespons pemanasan tersebut. Bumi bukan sebuah mesin sederhana dengan satu tombol yang dapat dinaikkan atau diturunkan. Atmosfer, lautan, hutan, tanah, es, awan, dan berbagai organisme saling berinteraksi. Perubahan pada satu bagian dapat memengaruhi bagian lainnya dan menciptakan umpan balik yang memperkuat atau mengurangi pemanasan.

Tumbuhan menjadi salah satu bagian penting dalam persoalan tersebut. Sebagian besar karbon dioksida yang dilepaskan manusia saat ini diserap kembali oleh ekosistem melalui fotosintesis, terutama oleh tumbuhan dan fitoplankton. Namun, kemampuan alam menyerap karbon tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang akan selalu tetap. Hutan yang terbakar, perubahan pola curah hujan, kekeringan, peningkatan suhu, dan perubahan kondisi ekosistem dapat memengaruhi kemampuan tumbuhan menyerap karbon. Jika kemampuan tersebut menurun, lebih banyak karbon dioksida akan bertahan di atmosfer dan memperkuat pemanasan.

Awan juga menjadi salah satu sumber ketidakpastian terbesar. Awan memiliki dua fungsi yang tampaknya bertentangan. Di satu sisi, awan memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa sehingga mendinginkan planet. Di sisi lain, awan juga memiliki efek rumah kaca yang membantu menahan panas. Marvel menjelaskan bahwa skala pengaruh awan sangat besar. Awan dapat mendinginkan Bumi sekitar 50 watt per meter persegi, tetapi pada saat yang sama memberikan efek pemanasan sekitar 25 watt per meter persegi. Memahami perubahan awan dalam iklim yang semakin hangat menjadi persoalan yang sangat kompleks karena proses pembentukan awan terjadi pada skala yang sangat kecil, sementara dampaknya dapat dirasakan secara global.

Karena itulah terdapat banyak model iklim yang dikembangkan oleh kelompok ilmuwan di berbagai negara. Tidak ada model yang merupakan salinan sempurna dari realitas. Untuk menggambarkan setiap tetes air, kristal es, partikel debu, dan butiran garam di seluruh atmosfer, dibutuhkan kemampuan komputasi yang sangat besar. Para ilmuwan akhirnya harus membuat penyederhanaan yang tetap dapat dipertanggungjawabkan secara fisik. Perbandingan berbagai model justru membantu memperlihatkan bagian mana yang sudah dipahami dengan kuat dan bagian mana yang masih memiliki ketidakpastian.

Menariknya, ketidakpastian terbesar mengenai seberapa panas Bumi akan menjadi justru bukan semata-mata berasal dari ilmu fisika. Faktor terbesar adalah apa yang akan dilakukan manusia. Apakah emisi akan terus meningkat? Apakah akan stabil? Ataukah negara-negara berhasil menguranginya secara signifikan? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan sangat menentukan dunia yang akan dihuni generasi mendatang.

Marvel juga menekankan bahwa ketidakpastian tidak sama dengan ketidaktahuan. Ilmuwan mungkin tidak mengetahui secara tepat berapa suhu Bumi pada suatu titik tertentu di masa depan, tetapi bukan berarti mereka tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Bahwa karbon dioksida dan metana merupakan gas rumah kaca dan bahwa gas rumah kaca menghangatkan planet merupakan ilmu pengetahuan yang telah memiliki dasar sangat kuat.

Persoalan perubahan iklim kemudian menjadi lebih luas daripada sekadar perdebatan tentang angka. Marvel menghubungkannya dengan emosi manusia. Dalam bukunya Human Nature: Nine Ways to Feel About Our Changing Planet, ia menjelaskan bahwa ilmuwan pun memiliki perasaan terhadap apa yang mereka pelajari. Selama bertahun-tahun, ia merasa bahwa sebagai ilmuwan dirinya harus bersikap sepenuhnya rasional dan objektif. Namun, ia kemudian menyadari bahwa memiliki emosi tidak berarti kehilangan objektivitas.

Perasaan terhadap perubahan iklim dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada kekaguman terhadap keindahan Bumi, kemarahan terhadap kerusakan lingkungan, rasa bersalah, ketakutan, kesedihan, kejutan, kebanggaan, harapan, dan cinta. Tidak ada alasan mengapa manusia hanya boleh merasakan satu emosi ketika menghadapi perubahan sebesar perubahan iklim.

Bagi Marvel, rasa kagum menjadi salah satu perasaan yang paling kuat. Sebagai seseorang yang pernah mempelajari astrofisika dan kosmologi, ia melihat Bumi dalam konteks alam semesta yang sangat luas. Semakin banyak manusia mengetahui planet lain, semakin jelas bahwa Bumi memiliki kondisi yang luar biasa untuk kehidupan. Kesadaran tersebut justru membuat perlindungan terhadap Bumi menjadi semakin penting.

Rasa kehilangan juga menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Marvel menceritakan kecintaannya terhadap California dan hutan sequoia yang telah bertahan selama ribuan tahun. Pohon-pohon tersebut memiliki kemampuan luar biasa menghadapi kebakaran dan bahkan membutuhkan api dalam siklus ekologisnya. Namun, perubahan iklim membuat kondisi kebakaran semakin ekstrem. Musim panas yang semakin panas, perubahan kelembapan, serta meningkatnya bahan bakar yang mudah terbakar menciptakan tekanan baru bagi ekosistem yang sebelumnya mampu bertahan selama berabad-abad.

Di tengah semua itu, Marvel memilih untuk tetap berbicara mengenai harapan. Bukan harapan yang pasif, melainkan harapan yang muncul karena manusia mengetahui apa yang harus dilakukan. Dari sisi ilmu fisika, persoalan dasarnya sederhana: gas rumah kaca menyebabkan pemanasan, sehingga mengurangi emisi gas rumah kaca merupakan bagian utama dari solusi.

Persoalannya memang jauh lebih kompleks dalam praktik. Emisi berasal dari transportasi, pembangkit listrik, penggunaan lahan, pertanian, industri, bangunan, serta berbagai aktivitas ekonomi lainnya. Namun, ketika persoalan tersebut dipecah menjadi sektor-sektor, muncul berbagai pilihan teknologi untuk menguranginya.

Perubahan energi menjadi salah satu contoh paling jelas. Energi surya yang dahulu dianggap sebagai teknologi khusus kini telah berkembang menjadi salah satu sumber listrik paling kompetitif. Kendaraan listrik semakin tersedia, teknologi baterai berkembang, dan berbagai teknologi energi rendah karbon terus mengalami kemajuan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa solusi yang dahulu tampak terlalu optimistis dapat menjadi kenyataan ketika teknologi, investasi, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat bergerak dalam arah yang sama.

Karena itu, pertanyaan “seberapa panas Bumi akan menjadi?” sebenarnya bukan hanya pertanyaan tentang masa depan. Pertanyaan tersebut juga merupakan pertanyaan tentang pilihan manusia hari ini. Model iklim memberikan berbagai kemungkinan dunia yang dapat terjadi, tetapi manusia masih memiliki pengaruh besar terhadap skenario mana yang akan diwujudkan.

Bumi mungkin memang akan terus menghangat. Sebagian perubahan sudah berlangsung dan beberapa dampaknya tidak dapat segera dibalikkan. Namun, besarnya pemanasan yang masih akan terjadi belum ditentukan sepenuhnya. Ada perbedaan besar antara dunia yang terus meningkatkan emisi dan dunia yang berhasil mengubah sistem energi, transportasi, industri, pangan, serta penggunaan lahannya.

Dalam konteks tersebut, ketidakpastian seharusnya bukan alasan untuk tidak bertindak. Justru karena masa depan masih dipengaruhi pilihan manusia, setiap keputusan hari ini memiliki arti. Ilmu pengetahuan memberikan batas dan kemungkinan, sementara masyarakat menentukan arah perjalanan. Dan mungkin di situlah letak harapan terbesar: manusia belum mengetahui secara pasti seberapa panas Bumi nantinya, tetapi manusia juga belum kehilangan kemampuan untuk memengaruhi jawabannya.