Bukan Lagi Jual Bahan Mentah, Indonesia Bidik Ekspor Produk Bernilai Tinggi

0
50
Trade Expo Indonesia 2026
Produk lokal handmade di Trade Expo Indonesia 2026. FOTO: VIBIZMEDIA.COM/MARULI SINAMBELA

(Vibizmedia-Nasional) Indonesia mulai memperkuat arah transformasi ekspor dari penjualan komoditas menuju produk olahan dan manufaktur bernilai tambah tinggi. Tantangannya kini bukan sekadar meningkatkan nilai ekspor, tetapi memastikan semakin besar manfaat ekonomi yang tercipta di dalam negeri.

Momentum tersebut mengemuka dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Rabu (14/10/2026). Pameran yang berlangsung hingga 18 Oktober 2026 ini menargetkan potensi transaksi sebesar US$17,5 miliar dengan menghadirkan 1.873 ekshibitor dan calon pembeli dari 134 negara.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, nilai ekspor Indonesia pada Januari–Agustus 2026 mencapai US$193,64 miliar, meningkat 4,74% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas mencapai US$185,63 miliar atau tumbuh 5,48%.

Pertumbuhan tersebut memberikan gambaran positif bagi perdagangan Indonesia. Namun, tantangan berikutnya adalah meningkatkan kualitas ekspor agar pertumbuhannya semakin ditopang oleh produk dengan tingkat pengolahan, teknologi, dan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa optimalisasi sumber daya alam melalui hilirisasi dan industrialisasi menjadi salah satu strategi untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.

“Pemerintah menggalakkan ekspor bernilai tambah tinggi melalui hilirisasi dan industrialisasi sumber daya alam. Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” ujar Bahlil saat membuka TEI 2026 mewakili Presiden Prabowo Subianto.

Ekspor Industri Pengolahan Menguat

Perkembangan ekspor menunjukkan bahwa industri pengolahan memiliki peran penting dalam menjaga kinerja perdagangan Indonesia.

BPS mencatat, ekspor industri pengolahan pada Januari 2026 mencapai US$18,51 miliar, meningkat dari US$17,11 miliar pada Januari 2025. Pertumbuhan ditopang antara lain oleh produk olahan minyak sawit, produk nikel, besi dan baja, semikonduktor, serta kendaraan bermotor.

Kinerja tersebut memperlihatkan peluang Indonesia untuk meningkatkan ekspor melalui pengolahan sumber daya alam dan pengembangan basis manufaktur.

Namun, perluasan ekspor industri pengolahan tidak otomatis berarti Indonesia telah sepenuhnya beralih dari komoditas menuju produk teknologi tinggi. Produk olahan dengan tingkat pemrosesan berbeda tetap memiliki nilai tambah, kompleksitas teknologi, dan dampak ekonomi yang berbeda pula.

Karena itu, strategi industrialisasi perlu bergerak lebih jauh, dari pengolahan bahan mentah menjadi pengembangan produk akhir, penguasaan teknologi, penguatan riset, serta peningkatan kemampuan perusahaan domestik dalam rantai pasok global.

Jangan Berhenti pada Hilirisasi Tahap Awal

Hilirisasi menjadi penting karena bahan mentah yang diolah di dalam negeri berpotensi menghasilkan nilai jual lebih tinggi dibandingkan penjualan langsung tanpa pengolahan. Akan tetapi, nilai tambah yang diperoleh Indonesia akan semakin besar apabila industri domestik mampu menguasai lebih banyak tahapan produksi.

Pada sektor mineral, misalnya, pengolahan perlu didukung pengembangan industri lanjutan yang menghasilkan bahan dan komponen untuk berbagai kebutuhan manufaktur. Pada sektor pertanian, komoditas seperti kelapa sawit, kakao, kopi, dan hasil perikanan memiliki peluang dikembangkan menjadi produk olahan dengan merek dan standar kualitas yang mampu bersaing di pasar internasional.

Perubahan ini membutuhkan investasi teknologi, tenaga kerja terampil, energi yang kompetitif, infrastruktur logistik, serta kepastian pasar. Tanpa dukungan tersebut, biaya produksi barang olahan dapat menjadi terlalu tinggi dan mengurangi daya saing ekspor.

Selain itu, pemerintah perlu memastikan bahwa ekspansi industri pengolahan memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian domestik, termasuk penciptaan lapangan kerja berkualitas, keterlibatan pemasok lokal, dan peningkatan kemampuan industri nasional.

Dengan demikian, keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari bertambahnya fasilitas produksi atau meningkatnya volume ekspor produk olahan. Indikator yang lebih penting adalah besarnya nilai tambah domestik yang dihasilkan dan kemampuan industri nasional untuk terus meningkatkan kualitas produknya.

TEI Harus Membuka Pasar bagi Produk Jadi Indonesia

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, TEI merupakan salah satu sarana untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon pembeli mancanegara dan memperluas peluang ekspor.

Pameran tahun ini menampilkan produk unggulan dari berbagai sektor, mulai dari makanan dan minuman, pertanian, manufaktur, fesyen, kriya, furnitur, hingga dekorasi rumah.

Hingga pembukaan pameran, telah terdaftar calon pembeli dari 134 negara. Sebanyak 168 nota kesepahaman antara eksportir Indonesia dan pembeli dari 22 negara juga dijadwalkan ditandatangani pada hari pertama.

Besarnya jangkauan pasar tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperluas penjualan produk olahan Indonesia. Namun, eksportir perlu memahami bahwa pasar internasional tidak hanya mempertimbangkan ketersediaan barang, tetapi juga harga, kualitas, sertifikasi, ketepatan pengiriman, dan konsistensi pasokan.

TEI seharusnya menjadi sarana untuk mempertemukan kapasitas industri domestik dengan kebutuhan pasar global. Melalui interaksi dengan calon pembeli, produsen dapat mengidentifikasi produk yang memiliki permintaan nyata dan mengembangkan produksi sesuai standar negara tujuan.

Langkah ini juga perlu didukung promosi perdagangan yang lebih terarah, termasuk memanfaatkan perjanjian dagang untuk memperluas akses pasar dan mengurangi hambatan perdagangan.

UMKM Perlu Naik Kelas dari Pemasok Menjadi Eksportir

Transformasi ekspor juga perlu melibatkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pelaku usaha lokal memiliki peluang untuk mengembangkan produk pertanian, makanan olahan, fesyen, kriya, dan berbagai produk kreatif yang memiliki keunikan serta daya saing.

Kementerian Perdagangan mendorong UMKM memasuki pasar ekspor melalui fasilitasi penjajakan bisnis atau business matching, program Desa Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor, serta Campuspreneur.

Namun, peningkatan jumlah UMKM yang mengikuti pameran belum tentu langsung menghasilkan peningkatan ekspor berkelanjutan. Pelaku usaha membutuhkan akses pembiayaan, pendampingan sertifikasi, teknologi produksi, pengemasan, pemasaran digital, dan jaringan distribusi internasional.

Lebih jauh, UMKM perlu didorong untuk tidak hanya menjual bahan baku kepada perusahaan besar, tetapi juga mengembangkan produk olahan, membangun merek sendiri, dan meningkatkan posisi tawar dalam rantai pasok.

Jika langkah ini berjalan konsisten, manfaat ekspor berpotensi menjangkau lebih banyak daerah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat industri berbasis potensi lokal.

Ukuran Keberhasilan Bukan Sekadar Nilai Transaksi

Target potensi transaksi US$17,5 miliar dalam TEI 2026 menjadi gambaran ambisi Indonesia memperluas perdagangan internasional. Namun, nilai tersebut perlu dibedakan dari kontrak yang telah terealisasi dan barang yang benar-benar dikirim ke negara tujuan.

Keberhasilan transformasi ekspor juga harus dinilai melalui perubahan komposisi produk, pertumbuhan ekspor manufaktur, peningkatan nilai tambah domestik, dan kemampuan industri Indonesia menghasilkan produk yang semakin kompetitif.

Pemerintah juga perlu memantau apakah ekspansi industri pengolahan mendorong pertumbuhan pemasok lokal, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan penolong maupun komponen tertentu.

Indonesia memiliki modal berupa sumber daya alam, pasar domestik, dan basis produksi yang luas. Tantangan berikutnya adalah memastikan keunggulan tersebut tidak berhenti pada penjualan komoditas atau pengolahan tahap awal.

TEI 2026 dapat menjadi salah satu pintu untuk mempertemukan produk Indonesia dengan pasar global. Namun, tujuan yang lebih besar adalah membangun industri yang mampu mengolah sumber daya menjadi produk bernilai tinggi, menguasai teknologi, dan menciptakan manfaat ekonomi yang semakin besar di dalam negeri.

Pada akhirnya, keberhasilan ekspor Indonesia bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak barang yang dijual ke luar negeri, tetapi juga oleh seberapa besar nilai ekonomi yang berhasil diciptakan bangsa sendiri dari setiap produk yang diekspor.