Akurasi Statistik Industri Diperkuat untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

0
57
Foto: Kemenko Ekon
(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah berupaya meningkatkan kualitas pencatatan statistik industri guna memetakan sumber pertumbuhan ekonomi secara lebih akurat dan menyusun kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan. Upaya tersebut dibahas dalam pertemuan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo dengan
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) dan Menteri Perindustrian di Jakarta, Senin (26/10).
Pertemuan tersebut berfokus pada penjajakan kolaborasi untuk menyempurnakan pencatatan data industri, terutama menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 yang dijadwalkan pada awal November.
Dradjad mengatakan, pemerintah tengah mengidentifikasi berbagai subsektor industri yang berpotensi menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi ke depan. Sejumlah sektor yang menjadi perhatian meliputi makanan dan minuman, agroindustri, serta kegiatan industri yang beroperasi di kawasan industri maupun kawasan berikat.
“Kami juga mengidentifikasi beberapa sumber-sumber pertumbuhan industri yang bisa kita galakkan ke depan, baik di sektor mamin (makanan dan minuman), kemudian agro, kemudian baik dia ada di kawasan industri, ada di kawasan bahkan di kawasan berikat,” ujar Dradjad dalam keterangan pers seusai rapat bersama Menteri Perindustrian.
Menurutnya, koordinasi lintas kementerian dan lembaga tersebut merupakan bagian dari strategi untuk menggali potensi pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sektor industri beserta sektor-sektor pendukungnya. Penyelarasan data antarlembaga menjadi langkah penting untuk mewujudkan satu data nasional yang dapat dijadikan acuan dalam mengevaluasi kondisi ekonomi, memetakan peluang pertumbuhan, serta menentukan kebijakan yang diperlukan.
Dradjad juga menyoroti pentingnya kontribusi pemerintah daerah dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. Potensi investasi dan aktivitas usaha di setiap wilayah perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan karakteristik serta keunggulan masing-masing daerah.
Selain sebagai alat ukur, data statistik perlu dimanfaatkan secara langsung dalam penyusunan kebijakan. Dengan demikian, pemerintah dapat mengenali hambatan yang dihadapi sektor industri, menentukan bentuk intervensi yang tepat, serta membangun gambaran kondisi ekonomi yang lebih akurat. Ketersediaan data yang berkualitas juga penting untuk menilai perkembangan daya beli masyarakat dan menemukan peluang industrialisasi baru.
Dari sisi aktivitas usaha, Dradjad menyebutkan bahwa sektor industri dan bidang-bidang yang mendukungnya menunjukkan peningkatan kegiatan. Perkembangan ini menjadi salah satu dasar untuk mengidentifikasi peluang perluasan usaha dan meningkatkan kapasitas produksi industri nasional.
Peningkatan permintaan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru juga dinilai dapat dimanfaatkan untuk mendorong aktivitas manufaktur. Salah satu langkah yang dapat ditempuh ialah meningkatkan utilisasi industri, sehingga kapasitas produksi yang tersedia dapat digunakan secara lebih optimal.
Dradjad mencontohkan, peningkatan produktivitas di sektor pertanian melalui intensifikasi, perbaikan sistem pengairan, dan penyediaan pupuk telah memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan sektor tersebut. Pendekatan serupa, menurutnya, dapat diterapkan pada sektor industri melalui optimalisasi pemanfaatan kapasitas produksi.
“Kalau di pertanian kita punya intensifikasi pertanian, perbaikan air, kemudian pupuk dan sebagainya itu ternyata meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian cukup signifikan. Nah di industri, ini juga intensifikasi industri melalui itu tadi, peningkatan utilisasi. Semoga ini akan bisa kita dorong,” pungkas Dradjad.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Eko S. A. Cahyanto, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan, Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah, serta Asisten Deputi Pengembangan Industri Agro, Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Eripson Mangasi Hamonangan Sinaga. Sejumlah pejabat terkait dari Kementerian Perindustrian dan BPS juga hadir dalam pertemuan tersebut.