BMKG: Cuaca Ekstrem Berlanjut hingga Awal Februari

0
339
Prospek cuaca dan iklim minggu di wilayah Indonesia menurut prakiraan BMKG. (BMKG)

(Vibizmedia – Jakarta) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan hujan lebat hingga sangat lebat melanda sejumlah wilayah Indonesia pada periode 27–29 Januari 2026. Kondisi tersebut dipicu oleh dinamika atmosfer global dan regional yang masih aktif, terutama pengaruh Monsun Asia dan angin baratan yang diperkirakan bertahan hingga awal Februari.

Prakirawan BMKG Adelia menyampaikan, curah hujan tertinggi tercatat di Jawa Barat mencapai 121,8 mm per hari, disusul Sumatra Barat sebesar 108 mm per hari. Sementara itu, Aceh, sebagian besar wilayah Jawa, dan Bali mencatat curah hujan berkisar antara 55,6 hingga 88,6 mm per hari. Informasi tersebut disampaikan BMKG dalam keterangannya yang dikutip InfoPublik, Sabtu (31/1/2026).

BMKG menjelaskan, cuaca signifikan ini dipengaruhi aktivitas Monsun Asia yang membawa massa udara dingin dari Benua Asia ke wilayah Indonesia. Kondisi tersebut diperkuat oleh fenomena cross equatorial northerly surge (CENS) di Selat Karimata, berupa aliran udara dingin yang melintasi ekuator dan meningkatkan pembentukan awan hujan.

Selain itu, bibit siklon tropis 98S yang melemah menjadi pusat tekanan rendah turut berkontribusi terhadap peningkatan awan konvektif di wilayah selatan Indonesia dalam sepekan terakhir. Kombinasi faktor-faktor tersebut menyebabkan proses pembentukan awan hujan berlangsung lebih intens dan meluas, sehingga memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

BMKG memprakirakan pengaruh dinamika atmosfer masih signifikan dalam sepekan ke depan. Pada skala global, ENSO terpantau berada pada fase netral, sementara La Niña lemah terindikasi melalui nilai SOI +8,6 dan indeks Nino 3.4 sebesar -0,79, yang mendukung peningkatan konvektivitas, khususnya di wilayah timur Indonesia.

Pada skala regional, Monsun Asia diperkirakan masih persisten hingga dasarian pertama Februari 2026. Fenomena CENS juga berpotensi tetap aktif dalam beberapa hari mendatang. Selain itu, potensi pembentukan daerah tekanan rendah di Teluk Carpentaria dapat memicu konvergensi angin di wilayah selatan Indonesia. BMKG juga mengamati aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin di Samudra Hindia, Jawa, Nusa Tenggara Timur, Lampung, Laut Sulu, Laut Arafura, hingga Papua Selatan yang turut meningkatkan peluang hujan.

Pada periode 30 Januari hingga 1 Februari 2026, cuaca di Indonesia umumnya didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Lampung, Banten, Nusa Tenggara Barat, seluruh Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, serta wilayah Papua.

BMKG menetapkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat di Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur. Potensi angin kencang juga perlu diwaspadai di Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

Memasuki periode 2–5 Februari 2026, hujan ringan hingga sedang masih mendominasi, dengan potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Peringatan siaga hujan lebat hingga sangat lebat dikeluarkan untuk Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, serta potensi angin kencang di Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat berubah sewaktu-waktu, serta melakukan mitigasi risiko secara mandiri dan kolektif. Masyarakat juga diminta lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang.

Informasi cuaca terkini dapat diakses melalui laman resmi BMKG, aplikasi Info BMKG, dan kanal media sosial resmi BMKG.