Kementan Siapkan Strategi Adaptif, Produksi Pangan Dijaga di Musim Kering

0
85
Foto: Kementan

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) terus memperkuat penerapan teknologi pertanian adaptif guna menghadapi musim kemarau 2026 sekaligus menjaga produktivitas pangan nasional.

Melalui jaringan BRMP di berbagai provinsi, Kementan mendorong pemanfaatan varietas unggul yang adaptif terhadap kekeringan, penerapan teknologi hemat air, serta pola budidaya yang disesuaikan dengan karakteristik lahan kering. Langkah ini diharapkan mampu memastikan produksi pangan tetap optimal di tengah tantangan iklim.

Upaya tersebut menjadi langkah antisipatif seiring mulai masuknya musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia. Berbagai inovasi dan teknologi yang telah disiapkan diharapkan dapat membantu petani tetap produktif di lapangan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan pentingnya langkah antisipasi sejak dini, mulai dari percepatan tanam, penguatan manajemen air, hingga pemanfaatan varietas tanaman yang adaptif di wilayah dengan keterbatasan air.

“Petani perlu memanfaatkan varietas genjah dan tahan kekeringan, seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, Cakrabuana, atau varietas sejenis lainnya agar produksi tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau,” ujar Amran.

Sejak awal 2026, BRMP di berbagai daerah telah mengintensifkan penerapan teknologi adaptif, mulai dari diseminasi varietas unggul tahan kering, pendampingan budidaya hemat air, hingga penguatan pola tanam berbasis lokasi.

Di Kepulauan Riau, BRMP mendorong penggunaan varietas seperti Cakrabuana Agritan dan Inpari 38 Tadah Hujan Agritan melalui pendampingan langsung kepada petani, penyediaan benih unggul, serta sosialisasi teknologi budidaya adaptif. Sementara di Bali, BRMP turut memperkenalkan benih jagung varietas Jakarin yang tetap produktif meski dalam kondisi ketersediaan air terbatas.

Selain itu, Kementan juga menggenjot penerapan teknologi hemat air melalui metode Alternate Wetting and Drying (AWD) atau pengairan berselang. Metode ini terbukti mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi tanpa menurunkan produktivitas tanaman.

BRMP juga mengembangkan teknologi budidaya spesifik lahan kering melalui Larikan Gogo Super (Largo Super). Teknologi ini mengombinasikan penggunaan varietas unggul padi gogo, sistem tanam larikan, pemupukan berimbang, penggunaan bahan organik, serta pengendalian hayati untuk meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.

Kepala BRMP Kementan, Fadjry Djufry, menegaskan bahwa penguatan inovasi berbasis karakteristik wilayah menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.

“BRMP terus mendorong penerapan inovasi teknologi pertanian yang sesuai dengan kondisi wilayah, mulai dari varietas adaptif, pengelolaan air yang efisien, hingga pola budidaya lahan kering agar produktivitas tetap terjaga,” ujarnya.

Ia menambahkan, BRMP di seluruh Indonesia terus melakukan pendampingan bersama pemerintah daerah, penyuluh, dan petani agar inovasi tersebut dapat diadopsi secara lebih luas di lapangan.

“Penguatan teknologi di tingkat petani menjadi langkah penting agar sektor pertanian semakin siap menghadapi dinamika iklim sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional,” tambahnya.

Melalui penguatan diseminasi inovasi, penerapan teknologi hemat air, serta pemanfaatan varietas unggul adaptif, Kementerian Pertanian optimistis sektor pertanian Indonesia akan semakin tangguh dan produktif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.