Rupiah Diproyeksi Menguat, BI Gaspol Intervensi Valas dan Tarik Investor Asing

0
54
Gubernur Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: BI

(Vibizmedia-Nasional) Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan menguat dalam waktu ke depan. Keyakinan ini didukung oleh serangkaian kebijakan stabilisasi yang terus diperkuat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa bank sentral meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. Intervensi tersebut dilakukan secara komprehensif, baik di pasar offshore maupun domestik.

“Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi valuta asing, termasuk melalui pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Rabu (22/4/2026).

Selain intervensi pasar, BI juga memperkuat daya tarik instrumen moneter dengan penyesuaian struktur suku bunga. Langkah ini ditujukan untuk mendorong aliran masuk investasi portofolio asing, yang dinilai penting dalam menopang stabilitas nilai tukar.

Tak hanya itu, BI turut melakukan penyesuaian kebijakan transaksi valuta asing, termasuk peningkatan ambang batas (threshold) dalam transaksi jual beli valas, baik pada instrumen NDF, forward, maupun swap. Kebijakan ini mulai berlaku sejak April 2026.

Berdasarkan data per 21 April 2026, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp17.140 per dolar AS, melemah sekitar 0,87 persen dibandingkan posisi akhir Maret 2026. Meski demikian, BI menilai pelemahan tersebut bersifat sementara.

Ke depan, Bank Indonesia meyakini rupiah akan kembali stabil bahkan cenderung menguat, didukung oleh komitmen kebijakan yang konsisten, imbal hasil yang kompetitif, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap solid.