Cuaca Ekstrem! BNPB Ungkap Dampak Bencana di Temanggung, Banjarnegara, Gorontalo, hingga Sintang

0
32
Jembatan putus
Jembatan Kali Jaran di Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah yang rusak pasca tanah longsor. Jembatan darurat telah dibangun dan sementara dapat dilalui kendaraan roda dua, pada Sabtu, 16 Mei 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan sejumlah kejadian bencana hidrometeorologi yang menimbulkan dampak signifikan di berbagai wilayah Indonesia sejak Sabtu (16/5) hingga Senin (18/5) pukul 07.00 WIB. Bencana berupa banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem masih mendominasi sejumlah daerah dengan dampak terhadap ribuan warga serta kerusakan infrastruktur penting.

Di Kabupaten Temanggung, tanah longsor terjadi pada Sabtu (16/5) sekitar pukul 18.15 WIB akibat hujan deras berkepanjangan. Longsor mengakibatkan robohnya Jembatan Kali Jaran yang menjadi akses penghubung antara Dusun Banjaran dan Dusun Sinongko di Desa Plosogaden, Kecamatan Candiroto.

Akibat kejadian tersebut, sebanyak 161 kepala keluarga atau sekitar 400 jiwa sempat terdampak dan terisolasi karena terputusnya jalur utama mobilitas warga. Pemerintah daerah bersama BPBD setempat langsung melakukan asesmen, pendataan, serta pemasangan rambu peringatan untuk mengantisipasi longsor susulan. Berdasarkan perkembangan terbaru, jembatan darurat sementara telah dapat dilalui kendaraan roda dua sehingga akses warga mulai kembali normal.

Masih di Jawa Tengah, longsor juga melanda Kabupaten Banjarnegara pada Sabtu (16/5) sekitar pukul 15.00 WIB setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Material longsoran menutup akses jalan di Dusun Jombok Jojogan, Desa Petuguran, Kecamatan Punggelan, menuju Desa Jembangan.

Sebanyak 11 kepala keluarga atau 32 jiwa dilaporkan mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Selain itu, sekitar 10 rumah warga berada dalam kondisi terancam akibat pergerakan tanah di sekitar lokasi. Hingga kini, BPBD Kabupaten Banjarnegara bersama pemerintah desa masih melakukan penanganan darurat dan mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi longsor susulan.

Sementara itu, banjir merendam wilayah Kota Gorontalo pada Sabtu (16/5) malam setelah tingginya curah hujan menyebabkan Kali Serdadu meluap. Banjir menggenangi permukiman warga dan areal persawahan di dua kecamatan dengan total sepuluh kelurahan terdampak.

Data sementara mencatat sekitar 761 kepala keluarga atau 2.692 jiwa terdampak, sementara 603 rumah terendam banjir. Tim BPBD Kota Gorontalo telah melakukan asesmen dan koordinasi lintas instansi guna mempercepat penanganan. Hingga Minggu (17/5), sebagian wilayah dilaporkan mulai surut meski penyedotan air masih dilakukan di sejumlah titik.

Bencana banjir dengan dampak lebih luas terjadi di Kabupaten Sintang setelah hujan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut pada Minggu (17/5) malam. Genangan meluas ke tiga kecamatan, yakni Kayan Hulu, Kayan Hilir, dan Kelam Permai, termasuk Desa Bengkuang.

Sekitar 2.718 kepala keluarga terdampak dalam kejadian ini, sementara ribuan rumah warga ikut terendam. Kondisi diperparah dengan putusnya satu jembatan gantung yang menjadi akses vital masyarakat sehingga menghambat mobilitas warga dan distribusi bantuan.

BPBD Kabupaten Sintang bersama pemerintah daerah kini terus melakukan pendataan dan penanganan darurat. Kebutuhan mendesak seperti perahu karet, makanan siap saji, air bersih, obat-obatan, hingga percepatan perbaikan Jembatan Nanga Toran menjadi prioritas utama dalam respons kebencanaan.

BNPB mengimbau masyarakat di wilayah rawan banjir, longsor, dan cuaca ekstrem agar meningkatkan kewaspadaan serta memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari instansi terkait. Warga juga diminta menghindari aktivitas di sekitar lereng labil, bantaran sungai, maupun infrastruktur yang mengalami kerusakan guna mencegah risiko korban akibat bencana susulan.