Gejolak Global Tekan IHSG, OJK Pastikan Kondisi Masih Terkendali

0
342

(Vibizmedia – Jakarta) Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir dinilai masih sejalan dengan tren penurunan bursa saham di kawasan regional.

Otoritas pasar modal menyebutkan, tekanan terhadap IHSG lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi kebijakan moneter global yang masih ketat.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, mengatakan bahwa pelemahan IHSG relatif moderat dan merupakan bagian dari penyesuaian pasar berbasis fundamental.

“Pergerakan ini masih wajar dan mencerminkan kondisi global. Bahkan, beberapa bursa regional mengalami penurunan yang lebih dalam,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Ia menjelaskan, tekanan terhadap pasar saham domestik juga terjadi setelah pengumuman rebalancing indeks MSCI pada pertengahan Mei 2026. IHSG sempat melemah 1,98 persen pada hari pertama setelah pengumuman, dan kembali turun 1,85 persen saat perdagangan dibuka usai libur panjang.

Meski demikian, Friderica menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari proses transformasi pasar modal yang tengah berlangsung. Menurutnya, pergerakan indeks kini semakin mencerminkan fundamental emiten, bukan sekadar sentimen jangka pendek.

IHSG juga dinilai semakin selaras dengan indeks global seperti MSCI serta indeks domestik utama seperti LQ45, IDX30, dan IDX80, yang menunjukkan proses pembentukan harga (price discovery) yang lebih sehat dan transparan.

Di tengah tekanan pasar, industri reksa dana justru mencatatkan kinerja positif. Nilai Aktiva Bersih (NAB) meningkat Rp49,71 triliun atau sekitar 6,39 persen secara year-to-date, sehingga total dana kelolaan mencapai Rp718,44 triliun. Peningkatan ini didorong oleh masuknya dana investor ritel.

Kepercayaan investor domestik juga terus menguat, tercermin dari penambahan sekitar 7 juta investor baru sepanjang tahun berjalan.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menambahkan bahwa hingga saat ini jumlah perusahaan tercatat telah mencapai 957 emiten, dengan mayoritas telah menyampaikan laporan keuangan sesuai ketentuan.

Secara fundamental, kinerja emiten juga menunjukkan perbaikan, dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 21,5 persen. Sementara itu, jumlah investor pasar modal telah menembus sekitar 27 juta, meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya.

“Peningkatan investor menjadi indikator positif bagi penguatan partisipasi masyarakat di pasar modal,” ujar Nyoman.

Dari sisi pasokan, BEI mencatat sekitar 15 perusahaan berada dalam pipeline pencatatan saham, yang sebagian besar merupakan perusahaan berkapitalisasi besar.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menilai penguatan regulasi dan sinergi antara OJK dan BEI menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasar serta meningkatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun global.

Ia optimistis berbagai langkah reformasi yang dilakukan akan memperkuat daya tahan pasar modal Indonesia ke depan.

Pandangan serupa disampaikan CEO Danantara, Rosan Roeslani, yang menilai pasar modal Indonesia masih memiliki prospek jangka panjang yang positif. Hal ini tercermin dari pertumbuhan investor ritel serta fundamental emiten yang tetap kuat, khususnya di sektor perbankan dan BUMN.

Menurutnya, investasi di pasar modal perlu dilihat sebagai instrumen jangka panjang. Sejumlah saham BUMN bahkan dinilai masih undervalued dengan potensi imbal hasil yang kompetitif.

“Pasar saham memang berfluktuasi, tetapi secara fundamental dan prospek jangka panjang, pasar modal Indonesia tetap menjanjikan,” pungkas Rosan.