Kurangi Emisi, ESDM Genjot Energi Terbarukan dan Kendaraan Listrik

0
45
Foto: Kementerian ESDM

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan pentingnya percepatan transisi menuju energi hijau guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil secara signifikan. Langkah ini menjadi krusial mengingat sektor industri dan transportasi masih menjadi penyumbang utama emisi karbon yang berdampak pada lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Tenaga Ahli Menteri ESDM, Satya Hangga Yudha Widya Putra, dalam seminar nasional “Electric Vehicle Technology and Battery Acceleration Talk (ELECTRA) 2026” yang diselenggarakan oleh mahasiswa Politeknik STMI Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Pemerintah saat ini memfokuskan pengembangan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang sepenuhnya didukung oleh pembangkit energi baru terbarukan (EBT), bukan lagi berbasis energi fosil. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan manfaat ramah lingkungan kendaraan listrik benar-benar terwujud dari hulu hingga hilir.

Selain itu, penggunaan kendaraan listrik terbukti lebih efisien, terutama di wilayah perkotaan seperti Jakarta yang padat lalu lintas, karena mampu menekan biaya energi dibandingkan penggunaan bahan bakar minyak non-subsidi.

Meski demikian, pemerintah tetap mendorong masyarakat untuk memanfaatkan transportasi publik yang lebih efisien dan ramah lingkungan, seperti Transjakarta, KRL, dan MRT.

Pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia juga menunjukkan tren positif, dengan jumlah kendaraan mencapai lebih dari 350.000 unit, yang didominasi oleh kendaraan roda dua serta meningkatnya minat pada kendaraan roda empat dengan harga terjangkau.

Seiring perkembangan tersebut, pemerintah mulai memberi perhatian serius pada pengelolaan limbah, khususnya daur ulang baterai litium, guna memastikan siklus hidup kendaraan listrik tetap bersih dan berkelanjutan.

Di sisi lain, Kementerian ESDM juga tengah mengejar target ketahanan energi nasional, termasuk pengembangan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 GW.

Berbagai program strategis terus disinergikan untuk mendukung target tersebut, antara lain program dedieselisasi di wilayah terpencil, Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL), serta program Listrik Desa (Lisdes) berbasis energi surya sebagai pengganti pembangkit listrik tenaga diesel yang kurang ramah lingkungan.