Gempa M7,7 Guncang Sangihe, Tsunami Minor Terdeteksi di Sejumlah Wilayah

0
130
Sangihe
DOK: BMKG

(Vibizmedia-Nasional) Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Senin (8/6/2026) pagi, memicu gelombang tsunami minor di sejumlah wilayah pesisir dan diikuti rentetan gempa susulan berkekuatan signifikan.

Berdasarkan pemutakhiran data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pukul 08.22 WIB, anomali muka air laut telah terdeteksi di beberapa stasiun pemantau. Gelombang pertama tercatat di Loloda, Halmahera Barat, dengan ketinggian 0,09 meter pada pukul 07.20 WIB.

Selanjutnya, gelombang tsunami minor juga terpantau di Ulusiau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, setinggi 0,18 meter serta di Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, mencapai 0,19 meter pada pukul 07.27 WIB.

Di tengah munculnya anomali muka air laut tersebut, aktivitas tektonik di sekitar sumber gempa utama masih sangat aktif. BNPB mencatat sedikitnya empat gempa susulan berkekuatan di atas magnitudo 5 terjadi dalam kurun waktu kurang dari satu jam.

Gempa susulan diawali dengan magnitudo 5,9 pada pukul 07.11 WIB, disusul magnitudo 5,7 pada pukul 07.18 WIB. Aktivitas kembali meningkat pada pukul 07.55 WIB dengan gempa magnitudo 6,0 di wilayah barat laut Tahuna, sebelum gempa susulan magnitudo 5,2 tercatat pada pukul 08.10 WIB.

Laporan dari BPBD di daerah terdampak menyebutkan guncangan dirasakan cukup kuat di Kabupaten Kepulauan Sangihe selama tiga hingga empat detik dan sempat memicu kepanikan warga. Getaran juga dirasakan masyarakat di Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Manado, sementara di Kabupaten Kepulauan Talaud intensitas guncangan terpantau lebih lemah.

Hingga saat ini, BPBD bersama instansi terkait masih melakukan pemantauan intensif untuk memastikan dampak kerusakan yang mungkin ditimbulkan akibat gempa utama maupun gempa susulan.

Meski tinggi gelombang tsunami yang terdeteksi masih berada dalam kategori minor, BNPB mengimbau masyarakat di wilayah pesisir yang berstatus “Siaga” dan “Waspada” untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Wilayah yang diminta waspada meliputi pesisir Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, hingga Kalimantan Timur.

Masyarakat diminta menjauhi kawasan pantai, tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan atau retak akibat gempa, serta terus mengikuti informasi resmi dari BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah setempat. Mengingat aktivitas gempa susulan masih berlangsung dengan magnitudo yang cukup besar, kewaspadaan dan kesiapsiagaan tetap menjadi langkah utama untuk mengurangi risiko bencana.