Masih Tumbuh Positif, Industri Minuman Kemasan Dihantam Kenaikan Biaya Produksi

0
41
Industri Makanan dan Minuman
Industri makanan dan minuman. FOTO: KEMENPERIN

(Vibizmedia-Nasional) Industri minuman kemasan nasional masih menunjukkan pertumbuhan positif dan tetap menjadi salah satu penopang utama sektor manufaktur Indonesia. Namun, pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS menghadirkan tantangan baru bagi pelaku usaha di tengah tingginya ketergantungan terhadap bahan baku dan kemasan impor.

Data Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mencatat perekonomian nasional tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I-2026. Sektor industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan porsi 19,07 persen, sementara subsektor makanan dan minuman menyumbang sekitar 7,31 persen terhadap PDB nasional.

Meski secara makro masih menunjukkan kinerja yang solid, pelaku industri menghadapi tekanan yang tidak ringan. Peneliti Senior CORE Indonesia, Muhammad Ishak Razak, mengatakan bahwa konsumsi domestik yang didorong momentum Ramadan dan Idulfitri masih menjadi penggerak utama pertumbuhan industri minuman ringan. Namun, kondisi tersebut dibayangi berbagai tantangan struktural.

Menurutnya, pelemahan rupiah, kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta belum pulihnya daya beli masyarakat menjadi faktor yang harus dihadapi industri saat ini.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo, menilai bahwa pertumbuhan industri makanan dan minuman masih belum kembali ke performa sebelum pandemi. Sepanjang 2025, sektor ini tumbuh 6,38 persen, namun masih berada di bawah capaian pra-pandemi yang mampu mencapai kisaran 7 hingga 9 persen per tahun.

Ia menjelaskan, pelemahan daya beli masyarakat dan meningkatnya biaya operasional akibat ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat ruang gerak industri semakin terbatas. Kondisi tersebut diperparah oleh inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang pada April 2026 mencapai 3,06 persen secara tahunan, lebih tinggi dibanding inflasi nasional sebesar 2,42 persen.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk menjaga iklim usaha manufaktur tetap kondusif. Kementerian menyatakan akan terus mendorong penguatan struktur industri, hilirisasi, serta peningkatan daya saing sektor makanan dan minuman agar mampu bertahan menghadapi dinamika ekonomi global.

Pelaku industri menyambut positif langkah tersebut. ASRIM berharap kebijakan yang diterapkan pemerintah dapat berjalan secara adaptif dan konsisten tanpa menambah beban baru yang berpotensi mengganggu investasi maupun penyerapan tenaga kerja.

Menurut Triyono, peluang pertumbuhan industri minuman kemasan masih terbuka lebar. Namun, diperlukan penguatan berkelanjutan melalui peningkatan penggunaan bahan baku domestik, kepastian regulasi, serta kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara daya beli masyarakat dan keberlangsungan usaha.

ASRIM juga mendorong dialog konstruktif antara pemerintah dan pelaku industri untuk mengevaluasi berbagai kebijakan strategis, termasuk cukai dan bea masuk, guna menjaga stabilitas industri, keberlanjutan investasi, serta perlindungan tenaga kerja nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.