Manila, Kota Kontras: Dari Pusat Global hingga Pinggiran yang Tertinggal

0
64
Manila di waktu malam (Foto: Emy Trimahanani)

(Vibizmedia – Kolom) Filipina merupakan negara kepulauan di Asia Tenggara yang terletak di antara Laut Filipina, Laut Cina Selatan, dan Laut Sulawesi. Negara ini bertetangga dekat dengan Indonesia, Malaysia, Vietnam, Taiwan, dan China melalui wilayah perairannya. Sebagai negara kepulauan tanpa perbatasan darat, Filipina memiliki sekitar 118 juta penduduk yang tersebar di lebih dari 7.600 pulau, menjadikannya salah satu negara terbesar di kawasan ini, baik dari sisi jumlah penduduk maupun potensi ekonomi.

Sejumlah pengetahuan umum mengenai Filipina telah dikenal sebelumnya: Manila sebagai ibu kota, keberadaan tiga pulau utama, dominasi agama Katolik, serta tokoh-tokoh penting seperti Presiden Bongbong Marcos, Wakil Presiden Sara Duterte, mantan Presiden Rodrigo Duterte, mantan Presiden Cory Aquino, dan legenda tinju dunia Manny Pacquiao. Bahasa nasionalnya adalah Tagalog, sementara bahasa Inggris digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari.

Tiga kelompok pulau utama Filipina terdiri atas Luzon di bagian utara, Visayas di wilayah tengah, dan Mindanao di bagian selatan. Untuk memahami negara ini secara lebih mendalam, pengalaman langsung menjadi hal yang penting.  Kehadiran langsung—melihat, mendengar, dan merasakan kehidupan masyarakatnya—menjadi kunci untuk mengenal sebuah negara secara lebih utuh.

Gerbang awal untuk memahami Filipina adalah Manila. Kedatangan berlangsung melalui Bandara Ninoy Aquino International Airport, sebuah bandara yang cukup besar dan modern.


Secara administratif, Manila hanyalah salah satu kota di dalam kawasan Metro Manila. Namun, bagi banyak orang asing, istilah Manila sering digunakan untuk merujuk seluruh kawasan metropolitan tersebut. Metro Manila terdiri dari berbagai kota yang saling terhubung, seperti Manila, Makati, Pasay, Taguig, Quezon City, Mandaluyong, Pasig, dan lainnya. Kawasan ini dihuni sekitar 14 juta penduduk, sementara wilayah metropolitan yang lebih luas diperkirakan menampung lebih dari 25 juta jiwa.

Kepadatan penduduk tersebut langsung terasa saat memasuki kawasan perkotaan. Gedung-gedung tinggi berdiri berdampingan dengan permukiman padat. Jalan raya dipenuhi kendaraan, dan aktivitas ekonomi berlangsung hampir tanpa henti. Manila menghadirkan kesan sebagai kota yang bergerak cepat dan penuh energi.

Namun, modernitas di kota ini tidak hadir secara merata. Di satu sisi, terdapat kawasan yang sangat modern seperti Makati, Taguig, dan Pasay. Makati dikenal sebagai pusat bisnis tradisional Filipina, sementara Bonifacio Global City di Taguig menampilkan wajah kota yang lebih mutakhir dengan gedung pencakar langit, ruang terbuka publik yang tertata, serta kehadiran perusahaan global. Pasay memiliki karakter tersendiri sebagai pusat hotel, konvensi, pusat perbelanjaan, dan hiburan berskala internasional.

Manila saat senja (Foto: Suwandi Kusuma)

Kemajuan Infrastruktur dan Transformasi Ekonomi Manila

Dalam beberapa tahun terakhir, Manila menunjukkan akselerasi pembangunan yang signifikan. Kawasan Metro Manila menyumbang sekitar 35–40% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Filipina, menjadikannya pusat ekonomi yang sangat dominan, mirip dengan peran Jakarta di Indonesia.

Pemerintah Filipina menjalankan program pembangunan infrastruktur besar-besaran dengan investasi ratusan miliar dolar. Salah satu proyek paling ambisius adalah Metro Manila Subway, sistem kereta bawah tanah pertama di negara tersebut yang dirancang menjadi tulang punggung transportasi modern dan mengurangi kemacetan.

Selain itu, jaringan LRT dan MRT terus diperluas dan ditingkatkan kapasitasnya. Dibandingkan satu dekade lalu, sistem transportasi publik kini bergerak menuju integrasi yang lebih baik, meskipun masih dalam tahap pengembangan.

Pembangunan jalan tol layang seperti Skyway Stage 3 juga menjadi simbol modernisasi kota, menghubungkan wilayah utara dan selatan tanpa harus melalui jalan arteri yang padat, sehingga memangkas waktu tempuh secara signifikan.

Di sektor ekonomi, Manila semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pusat industri Business Process Outsourcing (BPO) terbesar di dunia, dengan nilai industri lebih dari US$30 miliar per tahun dan menyerap jutaan tenaga kerja. Kawasan seperti Makati dan Bonifacio Global City menjadi basis bagi perusahaan global di bidang teknologi, keuangan, dan layanan digital.

Selain itu, Manila berkembang sebagai pusat startup dan ekonomi digital di Asia Tenggara. Pertumbuhan perusahaan rintisan, coworking space, dan investasi venture capital meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Transformasi juga terlihat di kawasan Manila Bay melalui proyek reklamasi dan revitalisasi. Area ini berkembang menjadi destinasi wisata dan hiburan kelas dunia, dengan kawasan seperti Entertainment City yang menawarkan kasino, hotel mewah, serta fasilitas MICE.

Dari sisi properti, skyline Manila berubah dengan cepat. Dalam satu dekade terakhir, ratusan gedung tinggi baru dibangun, didukung oleh investasi asing dari Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Namun, di balik kemajuan tersebut, tantangan tetap besar. Kemacetan lalu lintas, ketimpangan sosial, dan kepadatan penduduk masih menjadi persoalan utama. Beberapa studi bahkan menempatkan Manila sebagai salah satu kota dengan tingkat kemacetan tertinggi di dunia.


Salah satu hal yang menonjol adalah kemampuan masyarakat Filipina dalam berbahasa Inggris. Bahasa ini digunakan secara luas di hotel, pusat perbelanjaan, restoran, museum, transportasi umum, hingga percakapan sehari-hari. Anak-anak muda pun umumnya mampu berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar dan percaya diri.

Fenomena ini tidak terlepas dari pengaruh sejarah, khususnya masa pemerintahan Amerika Serikat selama hampir setengah abad. Bahasa Inggris menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan dan digunakan secara luas dalam dunia bisnis, pemerintahan, dan komunikasi internasional.

Keunggulan ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi Filipina. Metro Manila berfungsi sebagai pusat pemerintahan, keuangan, pendidikan, dan perdagangan, serta menjadi penggerak utama ekonomi nasional.

Filipina juga dikenal sebagai salah satu pemasok tenaga kerja internasional terbesar di dunia. Jutaan warga negara bekerja di luar negeri, dan remitansi yang dikirimkan mencapai lebih dari US$35 miliar per tahun, menjadi salah satu sumber devisa utama.

Dari sisi interaksi sosial, kemampuan berbahasa Inggris memudahkan komunikasi antara penduduk lokal dan pengunjung. Aktivitas sederhana seperti bertanya arah, membeli makanan, atau menggunakan transportasi dapat dilakukan dengan mudah, sering kali disertai keramahan khas masyarakat setempat.

Kemiripan fisik antara masyarakat Filipina dan Indonesia juga menjadi hal menarik. Tidak jarang orang Indonesia dianggap sebagai warga lokal sebelum berbicara. Hal ini mencerminkan kedekatan historis sebagai sesama bangsa Austronesia di kawasan kepulauan Asia Tenggara.

Kesan lain yang muncul adalah kondisi kawasan perkotaan yang relatif terawat, terutama di area seperti Makati dan Pasay, dengan jalan-jalan utama yang cukup bersih dan tertata. Meskipun pengamatan ini terbatas pada area tertentu, kesan awal menunjukkan lingkungan perkotaan yang lebih tertata dibandingkan bayangan sebelumnya.

Secara keseluruhan, Manila menampilkan dirinya sebagai kota yang dinamis dan penuh kontras. Di balik gedung-gedung modern dan pusat bisnis internasional, terdapat lapisan realitas sosial yang kompleks. Kota ini bukan hanya tentang kemajuan, tetapi juga tentang bagaimana berbagai elemen kehidupan bertemu dan membentuk wajah Filipina masa kini.

Di Balik Modernisasi: Wajah Manila yang Masih Tertinggal

Di balik percepatan pembangunan dan modernisasi yang terlihat di berbagai kawasan, Manila masih menyimpan realitas lain yang tidak kalah besar: wilayah-wilayah yang tertinggal dan belum tersentuh pembangunan secara merata.

Salah satu gambaran paling nyata adalah keberadaan permukiman informal (slum) yang tersebar di berbagai sudut Metro Manila. Berbagai studi menunjukkan bahwa sekitar sepertiga rumah tangga di Metro Manila merupakan penghuni permukiman informal, sementara estimasi lain menyebutkan sekitar 35–37% populasi kota tinggal di kawasan kumuh, atau lebih dari 4 juta jiwa.

Permukiman ini umumnya muncul di lokasi-lokasi yang tidak ideal—di bantaran sungai, dekat rel kereta api, di bawah jembatan dan jalan tol, hingga di sekitar tempat pembuangan sampah. Kondisi hunian sering kali tidak permanen, dibangun dari material sederhana seperti kayu, seng, atau bahan daur ulang, dengan kepadatan yang sangat tinggi.

Keterbatasan akses terhadap layanan dasar menjadi persoalan utama. Banyak kawasan tidak memiliki akses resmi terhadap air bersih, sanitasi, maupun listrik. Akibatnya, warga harus membeli air dari penyedia informal dengan harga yang jauh lebih mahal—bahkan dalam beberapa kasus bisa mencapai puluhan kali lipat dibanding tarif normal.

Dampak sosial dan kesehatan dari kondisi ini juga signifikan. Studi menunjukkan bahwa tingkat penyakit seperti tuberkulosis dan diare jauh lebih tinggi di kawasan kumuh dibandingkan wilayah perkotaan lainnya. Lingkungan yang padat, minim sanitasi, dan rentan banjir memperburuk kualitas hidup masyarakat di dalamnya.

Selain itu, banyak permukiman informal berada di kawasan rawan bencana, seperti daerah banjir atau wilayah pesisir yang rentan terhadap kenaikan air laut. Diperkirakan sekitar setengah dari permukiman informal di Filipina berada di area berisiko tinggi, menjadikan kelompok ini sebagai yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim dan bencana alam.

Fenomena ini tidak terlepas dari urbanisasi yang sangat cepat. Manila terus menarik penduduk dari berbagai daerah yang datang dengan harapan memperoleh pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Namun, keterbatasan perumahan formal dan tingginya harga properti memaksa banyak dari mereka tinggal di kawasan informal.

Dalam beberapa kasus ekstrem, terdapat komunitas yang hidup di ruang-ruang yang bahkan tidak dirancang untuk hunian manusia—seperti di bawah jalan tol atau jembatan. Laporan terbaru menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan keluarga hidup di bawah struktur jalan layang, dengan kondisi minim fasilitas, tingkat kebisingan tinggi, dan risiko keselamatan yang besar.

Kontras inilah yang membentuk wajah Manila hari ini. Di satu sisi, kota ini berkembang menjadi pusat ekonomi modern dengan gedung pencakar langit dan kawasan bisnis global. Di sisi lain, jutaan warganya masih hidup dalam kondisi yang jauh dari standar kehidupan perkotaan yang layak.

Modernisasi Manila, dengan demikian, bukan hanya soal pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana kota ini menjawab ketimpangan yang semakin terlihat di antara warganya. Tanpa penyelesaian terhadap persoalan perumahan, kemiskinan urban, dan akses layanan dasar, kemajuan yang dicapai berisiko menjadi tidak inklusif—hanya dinikmati oleh sebagian, sementara sebagian lainnya tetap tertinggal.

Ini diambil di Distrik Tondo, salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Manila, di mana banyak penduduknya kekurangan akses terhadap air bersih, perumahan yang layak, sanitasi, pendidikan, layanan kesehatan, dan pekerjaan. (Foto: Instagram bennytgh)