Pansela Tulungagung Selesai Dibangun, Jadi Jalur Alternatif dan Penggerak Ekonomi Baru

0
62
Foto: Kementerian PU

(Vibizmedia – Tulungagung, Jawa Timur) Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) telah menuntaskan pembangunan seluruh ruas Jalur Pantai Selatan (Pansela) atau Jalur Lintas Selatan (JLS) di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, dengan total panjang mencapai 51,56 kilometer.

Penyelesaian terakhir berada pada ruas Brumbun–Sine, yang terbagi dalam Lot 1A sepanjang 9,53 km dan Lot 1B sepanjang 3,88 km. Proyek ini rampung pada akhir Mei 2026 setelah melalui sejumlah tantangan teknis, termasuk penanganan longsor di beberapa titik.

Dengan selesainya ruas tersebut, Tulungagung menjadi kabupaten kedua di Jawa Timur yang jalur Pansela-nya tersambung sepenuhnya setelah Kabupaten Pacitan. Jalur ini menghubungkan wilayah dari perbatasan Kabupaten Trenggalek di sisi barat hingga Kabupaten Blitar di sisi timur.

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa pembangunan Pansela merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat konektivitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi baru di wilayah selatan Pulau Jawa.

Menurutnya, Pansela diharapkan menjadi jalur alternatif guna mengurangi kepadatan di Jalur Pantura dan Tol Trans Jawa. Selain itu, akses jalan ini membuka konektivitas menuju kawasan wisata serta pusat-pusat ekonomi masyarakat pesisir.

Terhubungnya jalur Pansela di Tulungagung turut mempermudah akses ke berbagai destinasi wisata unggulan, seperti Pantai Sine, Pantai Dlodo, Pantai Gemah, Pantai Brumbun, serta kawasan alam Kedung Tumpang.

Secara umum, Jalur Lintas Selatan di Jawa Timur dikenal memiliki lanskap yang khas, mulai dari perbukitan, tebing karst, hingga panorama Samudra Hindia. Koridor Pansela di provinsi ini membentang dari Panggul, Sendangbiru, Jarit, Puger, hingga Glenmore dengan total panjang mencapai 628,39 km.

Secara nasional, pembangunan Jalan Pansela Jawa terus dikebut dengan target tersambung lebih dari 1.500 km yang melintasi lima provinsi, yakni Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Peningkatan aksesibilitas ini diharapkan mampu mendorong kunjungan wisata serta menggerakkan perekonomian lokal, khususnya di sektor kuliner, jasa wisata, perdagangan, dan perikanan.