(Vibizmedia – Jakarta) Di tengah kepadatan penduduk yang mencapai sekitar 17.000 jiwa per kilometer persegi, DKI Jakarta menghadapi tantangan besar dalam pengendalian dengue. Namun, pola kasus yang relatif konsisten setiap tahun membuat upaya deteksi dini, penguatan surveilans, dan pemberdayaan masyarakat menjadi kunci utama untuk menekan angka kesakitan dan kematian.
Kepala Seksi Penanggulangan Penyakit Menular dan Tidak Menular Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Arif Syaiful Haq, menyebut Jakarta sebagai wilayah dengan risiko tinggi penularan dengue akibat tingginya mobilitas dan kepadatan penduduk.
“Dengan jumlah penduduk sekitar 10,6 juta jiwa, transmisi dengue melalui nyamuk Aedes aegypti berlangsung lebih cepat,” ujarnya dalam diskusi pengembangan media menuju Indonesia nol kematian akibat dengue 2030 di Jakarta, Sabtu (13/6/2026).
Ia menjelaskan, tren dengue di Jakarta memiliki pola musiman yang jelas, dengan peningkatan kasus yang hampir selalu terjadi pada Maret hingga Mei. Pola ini dinilai seharusnya dapat diantisipasi lebih awal melalui intervensi yang terencana.
Berdasarkan analisis epidemiologi, kelompok usia 5–18 tahun menjadi yang paling terdampak, disusul kelompok usia produktif 19–40 tahun. Tingginya kasus pada kelompok produktif diduga berkaitan dengan aktivitas di tempat kerja dan mobilitas yang tinggi.
Arif menekankan pentingnya pengawasan di tujuh tatanan prioritas, termasuk institusi pendidikan dan tempat kerja yang kerap luput dari pemeriksaan jentik secara rutin.
Untuk memperkuat respons, Pemprov DKI Jakarta telah mengembangkan sistem surveilans terintegrasi dengan 189 rumah sakit. Setiap kasus yang terdiagnosis dilaporkan ke sistem, kemudian ditindaklanjuti oleh Puskesmas melalui penyelidikan epidemiologi guna mencegah penyebaran lebih luas.
Selain itu, Jakarta juga memanfaatkan teknologi prediksi berbasis iklim melalui sistem DBD KLIM yang dikembangkan bersama BMKG untuk memproyeksikan potensi peningkatan kasus hingga tiga bulan ke depan.
Dalam pengendalian vektor, program Kampung Bebas Jentik (KBJ) terus diperkuat guna mendorong partisipasi masyarakat. Kecamatan Cilandak menjadi salah satu contoh keberhasilan dengan angka kasus yang relatif rendah berkat konsistensi pemantauan jentik.
Inovasi lain yang dikembangkan adalah pelepasan nyamuk ber-Wolbachia, yang telah diuji coba di Kecamatan Kembangan dan direncanakan diperluas ke Cengkareng untuk menekan angka rawat inap.
Arif menjelaskan bahwa dengue merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri (self-limiting disease), namun penanganan yang tepat sangat menentukan keselamatan pasien, terutama dalam menjaga kecukupan cairan saat fase kritis.
Karena itu, pemahaman terhadap gejala, termasuk demam khas dan tanda bahaya, menjadi penting agar pasien segera mendapatkan penanganan medis.
Berdasarkan data hingga 8 Juni 2026, angka Incidence Rate (IR) dengue di Jakarta mencapai 49,96 per 100.000 penduduk dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 0,07 persen. Hingga Mei 2026 tercatat 5.468 kasus dengan empat kematian yang terjadi di wilayah Tebet, Kemayoran, Tanjung Priok, dan Pulogadung.
Arif menegaskan, keberhasilan pengendalian dengue tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah. Upaya paling efektif tetap melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus dan gerakan Satu Rumah Satu Jumantik yang membutuhkan partisipasi aktif masyarakat.
Melalui penguatan edukasi, deteksi dini, inovasi pengendalian, dan keterlibatan masyarakat, Jakarta optimistis dapat berkontribusi dalam mencapai target nol kematian akibat dengue pada 2030.









