Bayaran CEO Amerika Serikat Tembus Paket Kompensasi US$200 Juta

0
47
Amerika
Peluncuran Satelit Nusantara Lima oleh Roket Falcon 9 SpaceX di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat. (Streaming Website SpaceX)

(Vibizmedia-Kolom) CEO dengan bayaran lebih dari US$100 juta kembali bermunculan secara mencolok, hanya setahun setelah paket kompensasi bernilai sembilan digit tampak mulai meredup.Pada tahun lalu, lebih banyak CEO di Amerika Serikat yang melampaui ambang kompensasi yang dahulu tergolong langka tersebut dibandingkan tahun mana pun sejak 2021—dan hampir selusin di antaranya menerima bayaran lebih dari US$200 juta.

Tentu saja, kompensasi mereka terlihat kecil jika dibandingkan dengan paket bayaran senilai US$158 miliar yang diterima Elon Musk dari Tesla, yang mencetak rekor baru dan nilainya sekitar 16 kali lebih besar daripada total gabungan kompensasi seluruh 391 CEO lainnya dalam pemeringkatan tahunan CEO versi The Wall Street Journal. (Kesepakatan kompensasi Musk pada akhirnya bahkan dapat bernilai US$1 triliun.)

Meski demikian, posisi kedua ditempati oleh Shankh Mitra dari Welltower, sebuah real estate investment trust (REIT) yang berfokus pada hunian lansia dan layanan kesehatan. Mitra menerima kompensasi sebesar US$821 juta, menjadikannya salah satu penerima paket remunerasi eksekutif terbesar bagi CEO perusahaan publik dalam satu dekade terakhir, menurut data MyLogIQ.

Ketika kompensasi Elon Musk mencetak rekor pada 2018, hal itu membuka jalan bagi maraknya paket kompensasi yang dikenal sebagai moonshot pay packages, yaitu pemberian saham atau opsi saham dalam jumlah sangat besar yang dikaitkan dengan target ambisius jangka panjang selama beberapa tahun. (Berbagai bukti menunjukkan bahwa skema tersebut sering kali tidak memberikan hasil yang optimal, baik bagi eksekutif maupun investor.) Saat itu diperlukan beberapa tahun hingga tren tersebut benar-benar berkembang. Kini, banyak perusahaan tampaknya sudah mulai mengantisipasi perubahan serupa.

Lebih dari separuh CEO yang menerima kompensasi di atas US$100 juta tahun lalu memimpin perusahaan di luar indeks S&P 500, sehingga tidak masuk dalam pemeringkatan The Wall Street Journal. Di antaranya adalah Dylan Field dari perusahaan perangkat lunak desain Figma dengan kompensasi US$864 juta, serta Kaz Nejatian dari Opendoor Technologies, platform transaksi properti daring, dengan kompensasi US$741 juta.

Paket moonshot bukan satu-satunya faktor yang mendorong kenaikan kompensasi eksekutif. Berdasarkan analisis The Wall Street Journal terhadap data MyLogIQ, median kompensasi CEO di perusahaan-perusahaan S&P 500 pada 2025 naik menjadi hampir US$18 juta, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Jumlah eksekutif yang menerima lebih dari US$50 juta meningkat, sementara proporsi CEO dengan bayaran di bawah US$10 juta terus menurun.Sebanyak separuh CEO memperoleh kenaikan kompensasi tahunan setidaknya 9,8%.

Sebagian besar perusahaan besar membayar CEO mereka terutama melalui opsi saham atau saham terbatas (restricted stock), yang umumnya disertai berbagai persyaratan. Mereka akan menerima lebih sedikit saham apabila kinerja perusahaan buruk dalam jangka panjang, atau lebih banyak apabila perusahaan berhasil mencapai target. Karena itu, nilai akhir yang benar-benar diterima para eksekutif dapat berbeda secara signifikan dari nilai yang pertama kali dilaporkan perusahaan—dan sering kali justru lebih besar.

Di Welltower, sebanyak 99% dari kompensasi Mitra berasal dari pemberian saham, termasuk penghargaan saham senilai US$789 juta yang diberikan pada Oktober. Pada akhir tahun, perusahaan melaporkan bahwa nilai saham yang mendasari penghargaan tersebut telah mencapai sedikit di atas US$1 miliar, berdasarkan dokumen yang diajukan kepada regulator pasar modal.

Mitra berhak menerima sekitar separuh saham tersebut pada 2031 selama ia tetap menjabat di perusahaan. Sisanya akan diberikan apabila nilai pasar Welltower meningkat 45% dan kinerja saham perusahaan mengungguli beberapa indeks saham utama dengan margin yang cukup besar selama periode lima tahun.

Tiga eksekutif Welltower lainnya juga menerima paket kompensasi yang masing-masing bernilai lebih dari US$100 juta. Menurut MyLogIQ, hal ini menjadikan Welltower sebagai perusahaan kedua dalam satu dekade terakhir yang memiliki empat eksekutif dengan kompensasi bernilai sembilan digit dalam satu tahun yang sama. Welltower menyatakan bahwa penghargaan tersebut menggantikan bonus dan insentif saham selama satu dekade serta dirancang untuk menyelaraskan kepentingan manajemen dengan para pemegang saham.

Besarnya kompensasi CEO sering kali tidak memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat keuntungan yang diterima pemegang saham.Robinhood Markets, platform perdagangan saham daring, mencatatkan tingkat pengembalian bagi pemegang saham tertinggi dalam pemeringkatan The Wall Street Journal, yakni sebesar 204%. Namun perusahaan tersebut hanya menilai kompensasi CEO-nya, Vladimir Tenev, sebesar US$3 juta untuk tahun tersebut.

Meski demikian, Tenev berhasil merealisasikan keuntungan dari paket kompensasi yang diberikan pada 2019, yang menghasilkan saham bagi CEO tersebut dengan nilai mencapai US$1,1 miliar, menurut dokumen regulator. (Tenev dan perusahaan sebelumnya sepakat membatalkan paket kompensasi tahun 2021 yang semula bernilai US$796 juta.) Robinhood menjelaskan bahwa penghargaan saham tahun 2019 baru sepenuhnya menjadi hak Tenev setelah harga saham perusahaan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan harga saat penawaran umum perdana (IPO) pada 2021.

Dua dari CEO dengan bayaran tertinggi juga memimpin perusahaan yang memiliki kinerja sangat baik. Warner Bros. Discovery menempati peringkat keempat berdasarkan kinerja dan melaporkan kompensasi sebesar US$165 juta untuk David Zaslav. Sementara itu, Broadcom yang berada di posisi ketujuh berdasarkan kinerja melaporkan total kompensasi CEO Hock Tan mencapai US$205 juta.

Kedua eksekutif tersebut sebelumnya juga pernah menerima paket kompensasi bernilai sembilan digit—US$247 juta untuk Zaslav pada 2021 dan US$162 juta untuk Tan pada 2023. Broadcom menyatakan bahwa Tan tidak akan menerima tambahan insentif saham hingga 2030 dan hanya dapat memperoleh penghargaan tersebut apabila berhasil memenuhi target pendapatan perusahaan yang berasal dari bisnis kecerdasan buatan (AI).

Besarnya kompensasi ini berhubungan juga kondisi ekonomi Amerika yang tetap terbesar di dunia. Menurut data terbaru dari International Monetary Fund dan World Bank, PDB nominal Amerika Serikat berada di kisaran lebih dari US$30 triliun, jauh di atas negara lain. Di bawahnya terdapat China, Jerman, Jepang, dan India. Selain itu, negara ini memiliki pasar saham terbesar, dengan perusahaan-perusahaan raksasa seperti Apple, Microsoft, NVIDIA, Amazon, dan Alphabet (Google) yang bernilai triliunan dolar Amerika.