(Vibizmedia – Jakarta) Pemerintah terus menjaga stabilitas dan ketahanan perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global. Sejumlah indikator makroekonomi menunjukkan kinerja yang tetap solid dan berada pada jalur positif. Momentum pertumbuhan ekonomi pun tetap terjaga, tercermin dari capaian triwulan I Tahun 2026 yang tumbuh sebesar 5,61 persen (year-on-year), melampaui berbagai proyeksi lembaga internasional serta berada di atas rata-rata pertumbuhan negara-negara ASEAN.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa stabilitas tersebut juga didukung oleh inflasi yang terkendali, yakni sekitar 3 persen pada Mei 2026. Selain itu, permintaan domestik tetap kuat dengan Indeks Keyakinan Konsumen yang konsisten berada di atas level optimis, bahkan mencapai kisaran 120. Dari sisi eksternal, neraca perdagangan juga mencatat tren positif dengan surplus sekitar USD0,09 miliar pada April 2026.
Di sektor industri, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur S&P Global masih berada di level ekspansif, yakni di angka 50. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar USD144,9 miliar. Secara keseluruhan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian nasional tetap berada dalam jalur yang sehat dan resilien.
Untuk memperkuat daya beli masyarakat sekaligus menjaga aktivitas ekonomi pada Semester II Tahun 2026, Pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun. Paket ini mencakup bantuan pangan berupa beras bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat selama tiga bulan, bantuan Stabilisasi Harga dan Pasokan Pangan (SPHP) kedelai bagi pelaku usaha tahu dan tempe, serta diskon tarif transportasi untuk moda udara, kereta api, dan angkutan laut kelas ekonomi. Selain itu, Pemerintah juga memberikan berbagai insentif guna mendorong konsumsi masyarakat, khususnya pada periode libur sekolah serta momen Natal dan Tahun Baru.
Dalam rangka memperkuat kualitas sumber daya manusia, Pemerintah menyiapkan program magang nasional yang akan dimulai pada Juli 2026. Program ini memberikan kesempatan bagi lulusan baru untuk memperoleh pengalaman kerja selama enam bulan di berbagai sektor, termasuk industri, jasa, dan ekonomi digital, dengan dukungan insentif dari Pemerintah. Di saat yang sama, program vokasi dan reskilling juga disiapkan bagi sekitar 220 ribu lulusan SMK guna meningkatkan keterampilan tenaga kerja dan memperluas akses terhadap peluang kerja, termasuk di pasar internasional.
Di bidang hubungan ekonomi internasional, Pemerintah terus memperkuat diplomasi melalui berbagai perjanjian perdagangan. Salah satu capaian penting adalah penyelesaian perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang ditargetkan dapat diratifikasi pada tahun ini. Perjanjian tersebut berpotensi memberikan akses tarif nol persen bagi sekitar 90 persen produk Indonesia ke pasar Uni Eropa. Selain itu, Indonesia juga aktif dalam proses aksesi ke Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) serta Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), sebagai upaya memperluas pasar ekspor dan meningkatkan daya saing nasional.
Untuk mendukung transformasi ekonomi jangka panjang, Pemerintah juga tengah mempersiapkan pembentukan pusat keuangan (financial center) di Bali melalui kerangka regulasi khusus yang saat ini dibahas bersama parlemen. Di sisi lain, pengembangan ekonomi hijau terus didorong melalui berbagai proyek energi bersih yang didukung skema pembiayaan Just Energy Transition Partnership (JETP), termasuk pengembangan energi panas bumi dan pengolahan sampah menjadi energi.
Menutup pernyataannya, Menko Airlangga mengajak pelaku usaha dan investor untuk memanfaatkan momentum global saat ini sebagai peluang ekspansi. Ia menilai harga barang modal yang relatif kompetitif menjadi kesempatan strategis bagi dunia usaha untuk meningkatkan kapasitas dan investasi jangka panjang.









