BRI: Penempatan Dana SAL Jadi Langkah Strategis Jaga Stabilitas Keuangan

0
82
Foto:: BRI

(Vibizmedia – Jakarta) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menyambut positif rencana pemerintah untuk kembali menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Kebijakan tersebut dinilai strategis dalam menjaga kecukupan likuiditas perbankan nasional sekaligus memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal guna mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, dalam keterangan tertulis pada Selasa (30/6/2026), menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang kembali diberikan pemerintah melalui Kementerian Keuangan kepada BRI dalam penempatan dana SAL tersebut.

Menurut Hery, sinergi antara pemerintah dan industri perbankan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional serta memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi.

“Kami mengapresiasi kepercayaan yang diberikan pemerintah kepada BRI melalui penempatan dana SAL. Kebijakan ini merupakan langkah positif untuk memperkuat likuiditas perbankan, sehingga kapasitas intermediasi dalam mendukung pembiayaan sektor-sektor produktif dapat semakin optimal,” ujar Hery.

Ia menambahkan, apabila kebijakan tersebut direalisasikan, tambahan likuiditas yang diperoleh akan dimanfaatkan secara optimal dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudent banking) dan penerapan manajemen risiko yang baik.

Penyaluran pembiayaan, lanjutnya, akan tetap difokuskan secara selektif pada sektor-sektor produktif, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi fokus utama BRI. Penyaluran tersebut juga akan mempertimbangkan kualitas kredit serta kebutuhan riil di perekonomian.

Tambahan likuiditas ini dinilai berpotensi memperkuat kapasitas intermediasi perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, sejalan dengan permintaan pembiayaan yang sehat dan prospek usaha nasabah di berbagai sektor.

Hingga Maret 2026, total pembiayaan BRI secara bank only tercatat mencapai Rp1.358 triliun, dengan mayoritas penyaluran ditujukan kepada sektor UMKM dan sektor riil.

Perseroan menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam mendukung pembiayaan sektor-sektor produktif yang memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian nasional. Hal ini sejalan dengan mandat BRI sebagai bank yang berfokus pada pemberdayaan UMKM dan penguatan ekonomi nasional.

“Kami memastikan setiap penyaluran pembiayaan dilakukan secara terukur agar memberikan dampak nyata bagi perekonomian. Fokus BRI adalah sektor-sektor produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat daya saing ekonomi,” tambah Hery.

Untuk mendukung penyaluran tersebut, emiten berkode saham BBRI ini juga terus mendorong peningkatan dana pihak ketiga (DPK), khususnya dana murah atau current account saving account (CASA), melalui penguatan ekosistem digital perusahaan.

“Dengan fundamental yang kuat dan fokus pada UMKM, BRI optimistis dapat terus berkontribusi sebagai penggerak utama ekonomi kerakyatan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia,” ujar Hery.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Keuangan memutuskan untuk kembali menempatkan dana SAL di bank-bank Himbara dengan nilai hampir Rp400 triliun. Kebijakan ini diambil setelah sebagian dana tersebut sempat ditarik.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menjelaskan bahwa pemerintah sempat menarik dana SAL sebesar Rp110 triliun pada Juni 2026 dari sisa penempatan sebelumnya sebesar Rp281 triliun.

Saat ini, dana tersebut dikembalikan ke perbankan sehingga total penempatan mencapai Rp281 triliun dan direncanakan bertahan hingga akhir tahun.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan tambahan dana standby sebesar Rp100 triliun yang saat ini masih ditempatkan di Bank Indonesia (BI). Dengan demikian, total dana yang berpotensi ditempatkan di perbankan dapat mencapai Rp381 triliun.