Fundamental Kuat, Industri Keuangan Didorong Bertransformasi Hadapi Perubahan

0
63
Foto: Bank Jakarta

(Vibizmedia – Jakarta) Industri keuangan nasional dinilai masih memiliki fundamental yang solid di tengah berbagai tantangan ekonomi global. Namun demikian, perubahan lanskap bisnis dan perilaku pasar menuntut pelaku industri untuk bertransformasi agar tetap relevan serta mampu tumbuh secara berkelanjutan.

Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menyampaikan bahwa secara fundamental kondisi perbankan nasional masih berada dalam posisi yang kuat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap positif, tingkat permodalan yang memadai, likuiditas yang terjaga, serta rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang relatif rendah.

“Permasalahan saat ini bukan pada fundamental, melainkan pada perubahan medan permainan,” ujar Agus dalam diskusi bertajuk “Shaping the Next Era of Indonesia’s Capital Market” pada Investor Day 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir industri perbankan menghadapi dinamika yang semakin kompleks dan sulit diprediksi, mulai dari pandemi COVID-19, konflik geopolitik global, hingga perubahan kebijakan perdagangan internasional. Kondisi tersebut membuat pendekatan bisnis konvensional tidak lagi memadai.

Selain itu, Agus menyoroti adanya tekanan pada biaya dana (cost of fund) perbankan. Ia mengungkapkan bahwa suku bunga deposito dalam lelang dana antarbank sempat mencapai 11,5 persen, yang mencerminkan meningkatnya biaya penghimpunan dana di industri.

Dalam merespons tantangan tersebut, Bank Jakarta melakukan transformasi menyeluruh di berbagai aspek, mulai dari penguatan model bisnis, percepatan digitalisasi layanan, peningkatan manajemen risiko, hingga pembenahan budaya kerja perusahaan.

Sebagai bank yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Jakarta memfokuskan pengembangan bisnis pada penguatan ekosistem pemerintah daerah. Agus menilai perputaran anggaran di lingkungan Pemprov DKI Jakarta memiliki potensi besar sebagai sumber pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Di sisi lain, transformasi digital terus dipercepat melalui pembaruan infrastruktur teknologi, pengembangan aplikasi, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Penguatan manajemen risiko juga menjadi prioritas utama. Agus menekankan bahwa risiko yang dihadapi industri perbankan kini semakin kompleks dan multidimensi, tidak hanya terbatas pada risiko kredit, tetapi juga mencakup ancaman keamanan siber.

“Risiko ke depan akan semakin multidimensi,” tegasnya.

BEI Dorong Investor Berkualitas

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Jeffry Hendrik, menekankan pentingnya peningkatan kualitas investor dalam mendukung pendalaman pasar modal nasional.

Menurutnya, bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan self-regulatory organization (SRO), BEI terus mendorong peningkatan transparansi pasar, penyediaan data investor yang lebih rinci, pendalaman pasar, serta penguatan keterbukaan informasi kepada publik.

“Kami meyakini bahwa transparansi yang lebih baik akan meningkatkan kepercayaan (trust) investor,” ujar Jeffry.

Ia mengungkapkan bahwa jumlah investor domestik saat ini telah melampaui 28 juta. Meski demikian, peningkatan jumlah tersebut perlu diimbangi dengan kualitas investor agar dapat menjadi fondasi yang kokoh bagi pasar modal Indonesia.

Jeffry menegaskan pentingnya literasi dan pemahaman investasi yang memadai bagi investor, termasuk kemampuan melakukan analisis serta memahami profil risiko masinbuag-masing, tanpa sekadar mengikuti tren pasar.

“Mampu melakukan analisis, tidak hanya mengikuti influencer, dan tidak terjebak FOMO,” katanya.

Sejalan dengan itu, Agus menegaskan bahwa Bank Jakarta tidak lagi semata-mata mengejar pertumbuhan, melainkan mengedepankan pertumbuhan yang sehat dan berkualitas.

“Kami tidak berfokus pada pertumbuhan yang besar semata, tetapi pada pertumbuhan yang sehat dan berkualitas,” ujar Agus.

Baik sektor perbankan maupun pasar modal sepakat bahwa kualitas akan menjadi faktor kunci dalam menjaga ketahanan industri keuangan ke depan. Transformasi digital, penguatan tata kelola, peningkatan transparansi, serta literasi keuangan menjadi fondasi penting dalam menghadapi perubahan yang semakin cepat dan kompleks.