Erupsi Anak Krakatau, Abu Vulkanik Terjang Tiga Kabupaten dan Ganggu Enam Bandara

0
206
Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau di wilayah Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu, 5 September 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda. Abu vulkanik dilaporkan menyebar hingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan mengganggu aktivitas penerbangan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan langkah antisipasi menyusul aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang masih tinggi. Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto mengatakan pihaknya telah berkoordinasi secara intensif dengan pemerintah daerah untuk memantau kondisi masyarakat yang terdampak.

“Kami telah melakukan video conference secara intensif untuk mengetahui perkembangan kondisi masyarakat terdampak erupsi,” ujar Suharyanto dalam keterangan pers secara daring, Minggu (6/9).

BNPB juga telah mengirimkan personel ke sejumlah lokasi terdampak untuk memantau langsung kondisi di lapangan. Pemerintah daerah diminta memastikan kesiapan perangkat penanggulangan bencana, termasuk sirine, tempat evakuasi, rencana kontinjensi serta ketersediaan stok makanan.

Menurut Suharyanto, hingga saat ini belum ada pemerintah daerah terdampak yang menetapkan status kedaruratan bencana.

Namun, BNPB tetap mengantisipasi kemungkinan aktivitas vulkanik Anak Krakatau berlanjut. Koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait terus dilakukan untuk memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak lanjutan.

BNPB Siapkan Modifikasi Cuaca

BNPB juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) setelah kondisi memungkinkan. Operasi tersebut ditujukan untuk membantu meluruhkan abu vulkanik yang tersebar di sejumlah wilayah.

Suharyanto mengatakan pesawat untuk pelaksanaan OMC telah disiapkan di Pondok Cabe. Selain teknik penyemaian awan, BNPB juga menyiapkan metode water mist untuk membantu menurunkan hujan di wilayah Jakarta, Banten dan Lampung.

Pelaksanaan OMC tetap mempertimbangkan faktor keamanan dan keselamatan penerbangan karena sejumlah bandara masih terdampak sebaran abu vulkanik.

BNPB juga telah menyalurkan kebutuhan logistik dasar, termasuk masker, kepada masyarakat yang terdampak abu vulkanik.

Warga Diminta Lindungi Pernapasan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat tetap tenang dan meningkatkan perlindungan terhadap kesehatan, khususnya pernapasan, mata dan kulit.

Masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika harus beraktivitas di luar, warga diminta menggunakan masker dan kacamata pelindung serta segera membersihkan diri setelah kembali ke rumah.

“Pada wilayah yang terpapar abu vulkanik, untuk menjaga kesehatan pernafasan, lakukan kegiatan di dalam rumah. Apabila beraktivitas di luar rumah, pastikan menggunakan masker,” ujar Budi.

Untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat abu vulkanik, Kementerian Kesehatan juga telah menginstruksikan puskesmas di daerah agar meningkatkan kesiapsiagaan. Pos komando kesehatan atau Health Emergency Operation Centre (HEOC) juga dapat diaktifkan apabila diperlukan.

Berdasarkan pantauan BNPB, terdapat tiga kabupaten yang terdampak aktivitas vulkanik Anak Krakatau, yakni Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Tanggamus dan Kabupaten Pandeglang.

Enam Bandara Ditutup Sementara

Dampak erupsi juga dirasakan sektor penerbangan. Sebaran abu vulkanik dipantau oleh otoritas bandara, Kementerian Perhubungan dan BMKG karena dapat membahayakan keselamatan penerbangan.

Hingga Minggu (6/9) pukul 13.00 WIB, enam bandara masih ditutup sementara akibat dampak abu vulkanik. Keenam bandara tersebut adalah:

Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang
Bandara Budiarto, Tangerang
Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan
Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur
Bandara Raden Inten II, Lampung
Bandara Husein Sastranegara, Bandung

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan kondisi penerbangan akan terus dipantau dan diperbarui setiap empat jam.

Penutupan sementara Bandara Husein Sastranegara dilakukan setelah pengecekan kondisi kawasan bandara. Fasilitas penerbangan tersebut ditutup sementara pada Sabtu (6/9) pukul 12.00 WIB.

“Kementerian Perhubungan mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan. Pihak maskapai tidak memaksakan penerbangan apabila kondisi tidak memungkinkan,” ujar Dudy.

Penyeberangan Selat Sunda Masih Beroperasi

Berbeda dengan sektor penerbangan, sebaran abu vulkanik sejauh ini belum mengganggu transportasi laut. Penyeberangan melalui Selat Sunda masih dapat dilakukan.

Meski demikian, Kementerian Perhubungan meminta otoritas pelabuhan tetap meningkatkan kewaspadaan dan terus memperbarui informasi terkait kondisi keamanan dan keselamatan.

Penumpang kapal juga diimbau menggunakan masker sebagai langkah perlindungan terhadap paparan abu vulkanik.

Anak Krakatau Masih Level Siaga

Sementara itu, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan aktivitas vulkanik masih tinggi dan pemantauan terus dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan aktivitas gunung api tersebut.

PVMBG menetapkan wilayah aman berada di luar radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung. Penetapan zona tersebut mempertimbangkan sejumlah indikator, antara lain perkembangan morfologi gunung dan jangkauan material vulkanik yang dilontarkan dari kawah.

BNPB mengimbau masyarakat tetap tenang, waspada dan siap siaga menghadapi potensi bahaya erupsi. Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan tidak menyebarkan disinformasi maupun misinformasi yang dapat memicu kepanikan.

Informasi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat dipantau melalui kanal resmi BNPB, PVMBG, BMKG dan BPBD setempat.