Karhutla dan Banjir Melanda Sejumlah Daerah, Ribuan Keluarga Terdampak

0
266
Karhutla
Pemadaman api yang membakar wilayah Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh pada Senin, 7 September 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian pemerintah menyusul munculnya sejumlah kejadian di berbagai daerah dalam dua hari terakhir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sedikitnya 24,5 hektare lahan terbakar di Kebumen, Aceh Besar, dan Mesuji.

Laporan tersebut merupakan rangkuman kejadian bencana dan penanganannya oleh pemerintah daerah pada periode Senin (7/9) hingga Selasa (8/9) pukul 07.00 WIB.

Di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, kebakaran lahan terjadi di Desa Kebumen, Kecamatan Kebumen, pada Senin (7/9) sekitar pukul 12.50 WIB.

Kebakaran dipicu pembakaran sampah yang kemudian diperparah angin kencang dan kondisi lahan yang kering. Luas lahan terdampak diperkirakan mencapai 2 hektare.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama pemadam kebakaran Kabupaten Kebumen langsung melakukan kaji cepat dan pemadaman. Api berhasil dikendalikan dan tidak menimbulkan korban jiwa.

Kebakaran lahan juga terjadi di Gampong Kayee Adang, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, pada Senin (7/9) sekitar pukul 16.04 WIB.

Lahan seluas sekitar 1 hektare terdampak kebakaran. Hingga kini penyebab kejadian masih dalam penyelidikan pihak berwajib.

BPBD Kabupaten Aceh Besar mengerahkan tiga unit armada pemadam kebakaran. Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 18.45 WIB.

Hampir 20 Hektare Terbakar di Mesuji

Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan dengan luasan lebih besar terjadi di Kabupaten Mesuji, Lampung.

Titik api ditemukan di Desa Fajar Indah, Kecamatan Panca Jaya, dan Desa Sidomulyo, Kecamatan Mesuji, pada Senin (7/9) sekitar pukul 16.00 WIB.

Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 19,5 hektare. BPBD Kabupaten Mesuji bersama unsur terkait melakukan asesmen dan penanganan hingga api berhasil dipadamkan.

Tidak ada laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Sebelumnya, kebakaran lahan juga terjadi di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, pada Minggu (6/9). Lahan seluas sekitar 2 hektare di Desa Jatiprahu, Kecamatan Karangan, terbakar.

Kebakaran diduga dipicu sisa puntung rokok yang dibuang di area lahan. Personel BPBD Kabupaten Trenggalek bersama TNI/Polri, perangkat desa, dan masyarakat melakukan penanganan hingga api berhasil dipadamkan pada Senin (7/9).

Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa potensi kebakaran lahan masih perlu diwaspadai, terutama di wilayah dengan kondisi lahan kering.

Banjir Rendam 1.110 Rumah di Langkat

Selain karhutla, BNPB juga melaporkan bencana banjir di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Banjir terjadi pada Senin (7/9) akibat curah hujan tinggi yang diperparah jebolnya tanggul. Tiga kecamatan terdampak, yakni Batang Serangan, Padang Tualang, dan Tanjung Pura.

Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 1.110 kepala keluarga (KK) dan 1.110 unit rumah terdampak. Ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 120 sentimeter.

Hingga laporan tersebut dihimpun, masyarakat masih bertahan di rumah masing-masing.

BPBD Kabupaten Langkat telah menyalurkan bantuan berupa sembako, dua unit tenda keluarga, dan dua unit perahu fiber. Petugas juga berkoordinasi dengan unsur terkait serta menyiagakan personel di lokasi terdampak.

BNPB mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan. Warga juga diminta tidak membuang puntung rokok di area yang kering dan segera melaporkan kepada BPBD atau pemadam kebakaran apabila menemukan titik api.

Pemerintah daerah diminta meningkatkan patroli di wilayah rawan kebakaran serta memastikan personel dan peralatan pemadaman dalam kondisi siap digunakan agar setiap titik api dapat segera ditangani.

Sementara bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir, BNPB mengingatkan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat dan luapan sungai. Warga juga diminta mengamankan dokumen penting dan mengikuti arahan petugas apabila diperlukan evakuasi.

Pemerintah daerah juga diminta secara rutin memantau kondisi tanggul dan sungai serta menyiapkan personel dan peralatan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya banjir.