Kemenkes Luncurkan Nutri-Level, Dorong Gaya Hidup Sehat Jadi Tren Generasi Muda

0
82

(Vibizmedia – Jakarta) Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) mulai memperkenalkan pendekatan baru dalam kampanye kesehatan masyarakat melalui inisiatif Nutri-Level. Program ini tidak hanya diposisikan sebagai kebijakan pemerintah, tetapi juga sebagai gerakan nasional yang mendorong gaya hidup sehat menjadi bagian dari tren modern dan kebanggaan generasi muda.

Nutri-Level adalah sistem penilaian kandungan nutrisi pada makanan dan minuman olahan yang menggunakan kode warna dan huruf untuk memudahkan masyarakat memahami tingkat kesehatan suatu produk.

Sistem ini dibagi menjadi empat kategori, yakni Level A dengan huruf A berwarna hijau tua, Level B dengan huruf B berwarna hijau muda, Level C dengan huruf C berwarna kuning, serta Level D dengan huruf D berwarna merah. Semakin mendekati Level A, semakin baik kandungan gizi produk tersebut. Sebaliknya, produk dengan Level D menunjukkan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) yang perlu dibatasi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa kebijakan ini lahir dari keprihatinan atas tingginya angka penyakit tidak menular di Indonesia. Stroke, penyakit jantung, kanker, dan gagal ginjal masih menjadi penyebab utama kematian, termasuk pada usia produktif. Oleh karena itu, pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak dianggap sebagai langkah penting pencegahan.

“Gula, garam, lemak itu sangat berpengaruh secara scientific proof terhadap stroke, jantung, ginjal. Kalau kita bisa menurunkan konsumsi gula, garam, lemak ke level normal, insyaallah usia harapan hidup bisa meningkat,” ujar Menkes dalam peluncuran Nutri-Level di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Kamis (14/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa Indonesia saat ini menghadapi peningkatan kasus diabetes yang cukup signifikan. Berdasarkan data Kemenkes, prevalensi diabetes telah mencapai 11,3 persen atau sekitar 30 juta penduduk. Kondisi ini berisiko memicu komplikasi serius seperti gagal ginjal yang membutuhkan terapi cuci darah.

Menurutnya, keberhasilan program kesehatan tidak dapat hanya bergantung pada pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi aktif masyarakat. “Program kesehatan akan berhasil kalau dilakukan bersama seluruh komponen masyarakat. Program yang baik bukan sekadar program, tetapi harus menjadi gerakan,” ujarnya.

Karena itu, Nutri-Level dirancang agar dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama generasi muda. Peluncurannya di pusat perbelanjaan menjadi simbol bahwa gaya hidup sehat harus hadir di ruang publik dan menjadi bagian dari budaya populer.

Menkes juga menilai pentingnya mengemas hidup sehat dengan pendekatan yang relevan dengan anak muda, termasuk melalui fenomena Fear of Missing Out (FOMO). “Cara yang paling bagus adalah menjadikannya lifestyle baru, menjadikannya FOMO bahwa hidup sehat itu keren,” tegasnya.

Ia mencontohkan perubahan perilaku sederhana di kalangan anak muda, seperti beralih dari minuman tinggi gula ke pilihan yang lebih sehat seperti americano atau espresso tanpa gula tambahan.

Melalui Nutri-Level, Kemenkes berharap kesadaran gizi sehat dapat menjangkau lebih dari 280 juta penduduk Indonesia. Pemerintah ingin membangun budaya baru bahwa menjaga kesehatan bukan lagi kewajiban semata, tetapi menjadi identitas dan gaya hidup masyarakat modern.