Karhutla Mulai Merebak di Sumatra, Banjir dan Longsor Masih Mengintai Indonesia Timur

0
78
Tanah longsor
Peristiwa tanah longsor terjadi di Desa Leppangeng, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 30 Mei 2026. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Memasuki awal musim kemarau 2026, ancaman bencana di Indonesia menunjukkan pola yang berbeda di setiap wilayah. Di Pulau Sumatra, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai meningkat, sementara banjir dan tanah longsor masih membayangi sejumlah daerah di Indonesia bagian timur.

Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) periode 1–2 Juni 2026 mencatat sejumlah kejadian bencana yang memerlukan perhatian serius, mulai dari longsor yang mengisolasi desa di Sulawesi Selatan hingga karhutla yang terus meluas di Aceh dan Riau.

Di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, tanah longsor yang terjadi akibat hujan berintensitas tinggi menutup akses menuju Desa Leppangeng, Kecamatan Pitu Riase. Sebanyak 614 jiwa terdampak dan 221 rumah dilaporkan terkena dampak bencana tersebut. Hingga Senin (1/6), tim gabungan masih berupaya membersihkan material longsor yang menutup jalan utama menuju desa tersebut.

Sementara itu, banjir bandang di Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo, yang terjadi akibat luapan Sungai Didingga mulai surut. Meski demikian, ribuan warga masih menghadapi dampak pascabencana berupa lumpur dan material kayu yang menutupi permukiman. Sebanyak 2.817 jiwa terdampak, tiga rumah hanyut, dan puluhan rumah mengalami kerusakan berat.

Di Kalimantan Utara, banjir dan longsor juga melanda Kabupaten Nunukan. Hujan deras dan meluapnya sungai menyebabkan puluhan rumah terdampak, sementara longsor merusak badan jalan yang menjadi akses warga. Meski banjir telah surut, masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan banjir susulan dan ancaman satwa liar seperti buaya.

Di sisi lain, musim kemarau mulai memicu peningkatan kasus karhutla di wilayah barat Indonesia. Di Kabupaten Aceh Barat, kebakaran melanda tiga gampong dengan total lahan terbakar mencapai 13 hektare. Upaya pemadaman masih terkendala angin kencang dan tebalnya asap di lokasi kejadian.

Karhutla juga terjadi di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah dengan total dua hektare lahan terbakar. Berkat respons cepat petugas gabungan, api berhasil dipadamkan dan tidak menimbulkan korban jiwa.

Perhatian terbesar tertuju pada Provinsi Riau yang kembali menjadi wilayah prioritas penanganan karhutla. Data hingga 1 Juni 2026 menunjukkan luas lahan terbakar di provinsi tersebut telah mencapai 15.031 hektare sejak awal tahun. Sejumlah titik api baru masih terus terdeteksi di beberapa kabupaten.

BNPB mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana selama masa peralihan musim. Selain ancaman karhutla yang meningkat seiring musim kemarau, cuaca ekstrem masih berpotensi memicu banjir, longsor, angin kencang, hingga gelombang tinggi di sejumlah wilayah Indonesia.

Masyarakat juga diimbau menyiapkan tas siaga bencana dan terus memantau informasi resmi dari BNPB, BPBD, serta BMKG guna mengantisipasi risiko bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.