
(Vibizmedia – Nasional) Ditengah era persaingan global saat ini, dibutuhkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing agar dapat memenangkan persaingan. Perlu inovasi dan pemikiran konsep pendidikan Indonesia yang dapat mengubah mentalitas bangsa menjadi lebih kompetitif dan inovatif.
Dalam sambutannya di Konferensi Forum Rektor Indonesia Tahun 2017 di Jakarta Convetion Center, Kamis (2/2). Presiden Joko Widodo mengharapkan lahirnya konsep-konsep pendidikan yang mengubah mentalitas bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih kompetitif dan inovatif dalam memenangkan persaingan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Presiden sampaikan untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang handal diperlukan dorongan dari seluruh pihak khususnya yang berkecimpung dalam bidang pendidikan.
Kunci untuk bertahan hidup dan memenangkan persaingan serta mencapai kemajuan terletak pada kekuatan sumber daya manusia. Karena itu kita harus berani melakukan lompatan-lompatan dalam dunia pendidikan sehingga lahir sumber daya manusia yang memiliki etos kerja, kreativitas, dan inovasi yang tinggi, terang Presiden.
Banyaknya hal yang harus dibenahi dalam sistem pendidikan Indonesia, salah satunya pendidikan vokasi yang memainkan peranan penting dalam membentuk sumber daya manusia yang terampil. Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Sekolah kejuruan sebagai wadah pendidikan dan keterampilan dimaksud masih belum sesuai dengan tujuan pendidikan kejuruan yang dicitakan.
Presiden ungkapkan bahwa peralatan untuk latihan telah ketinggalan 20-30 tahun, kondisi guru SMK hampir 70 atau 80% adalah guru normatif yang seharusnya dapat melatih kemampuan berkaitan dengan garmen, assembling, otomotif dan menjalankan mesin-mesin, ungkapnya, Kamis (2/2).
Selain itu, dunia pendidikan juga diharapkan Presiden untuk dapat beradaptasi dengan perubahan dunia yang sedemikian cepatnya. Termasuk salah satu di antara adaptasi itu ialah kemauan dan keberanian untuk mengubah hal-hal yang berkaitan dengan jurusan maupun materi pengajaran.
Cepatnya perubahan di dunia, perlu langkah berani untuk mengubah hal-hal yang berkaitan dengan jurusan sesuai dengan kebutuhan saat ini seperti jurusan logistik, retail dan toko online misalnya, terang Presiden.

Agar Indonesia tidak tertinggal dengan negara-negara lain, hal ini menjadi pekerjaan bersama yang memerlukan visi untuk menyiapkan SDM dalam waktu 50-100 tahun ke depan.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Joko Widodo juga sempat memaparkan kondisi perekonomian terkini dan juga upaya-upaya pemerintah yang sedang dijalankan. Sekali lagi Kepala Negara mengajak seluruh pihak untuk tetap optimis meskipun dibayangi dengan kondisi perekonomian global yang tidak menentu.
Dirinya selalu menyampaikan kepada menteri-menteri bekerja itu harus optimis, membangun optimisme, sehingga masyarakat juga ikut terbangun optimismenya. Optimisme tersebut perlu ditumbuhkan. Apalagi mengingat sejumlah lembaga, baik lokal maupun asing, yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih dapat terus tumbuh ke depannya.
Lembaga asing maupun lokal yang dimaksudkan adalah INDEF memprediksikan pertumbuhan ekonomi 2017 mencapai 5%, Bank Indonesia 5%-5,4%, Bank Dunia 5,3%, ADB 5,5%, Presiden sampaikan kemungkinan besar akan ada kenaikan pada 2017, ungkapnya.
Dihadapan para rektor ini, Presiden sampaikan bahwa persoalan besar bangsa Indonesia dan yang menjadi fokus perhatian ialah mengenai ketimpangan. Terhadap persoalan tersebut, pemerintah telah berupaya keras untuk melakukan yang terbaik dalam mengurangi kesenjangan dimaksud.
Beberapa di antaranya yang kini masih terus berjalan ialah redistribusi aset dan reformasi agraria serta pembangunan infrastruktur di wilayah pinggiran dan terpencil di Indonesia. Untuk itu, dalam waktu dekat pemerintah akan mengeluarkan kebijakan baru dalam bidang ekonomi yaitu kebijakan pemerataan ekonomi, terang Presiden Jokowi.
Journalist : Rully
Editor : Mark Sinambela








