Energi Fosil dan EBT Berjalan Beriringan Memenuhi Kebutuhan Energi Domestik

0
234

(Vibizmedia – Jakarta) Selaku Subholding Upstream Pertamina PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memiliki tugas utama mencari sumber minyak dan gas (migas) untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Di sisi lain, secara bertahap Indonesia sedang mengupayakan energi yang dihasilkannya semakin bersih.

Dalam menjaga ketahanan energi nasional, Direktur Eksplorasi PHE Muharram Jaya Panguriseng menjelaskan, pemenuhan kebutuhan energi baik melalui energi fosil dan energi baru terbarukan (EBT) harus berjalan beriringan.

Muharram menjelaskan, transisi menuju energi bersih mutlak dilakukan, namun tidak bisa cepat memenuhi kebutuhan energi domestik saat ini.

Mengacu proyeksi kebutuhan energi primer Indonesia berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), migas masih akan menempati porsi 44% (gas 24% dan oil 20%) dari total 1.000 megaton oil equivalent (MTOE) pada tahun 2050, sementara EBT baru menyumbang porsi 32%.

Untuk itu, menurut Muharram, PHE akan terus menjalankan eksplorasi yang masif dan agresif dengan target temuan besar yang dapat dimonetisasi sebelum tahun 2040.

Muharram menegaskan, energi fosil masih sangat dibutuhkan dalam proses transisi energi untuk menjaga kebutuhan dan ketahanan energi nasional/

Muharram menambahkan, Perjanjian Paris, Net Zero Emission, dan transisi energi sekarang adalah momentum yang tepat untuk mendorong upaya masif dan agresif mengeksplorasi dan mengembangkan sumber-sumber energi baru terbarukan di Indonesia.

Adanya keberagaman sumber energi di bumi Indonesia ini bisa dimaksimalkan untuk mendorong bauran energi agar energi bersih bisa berkembang lebih cepat lagi.

Secara garis besar, dapat terlihat bahwa perusahaan energi global menyikapi transisi energi dalam tiga kelompok berbeda.

Satu, yang mengambil strategi go green dan mendivestasi seluruh industri migasnya. Kedua, yang melanjutkan industri migas dengan mengalokasikan sebagian investasinya untuk pertumbuhan green energy. Dan ketiga, tetap menjaga pertumbuhan industri migasnya dengan solusi dekarbonisasi melalui Carbon Capture Storage/Carbon Capture Utilization Storage (CCS/CCUS), seperti yang sedang dijalankan PHE.

PHE juga sedang mempelajari salah satu energi sangat bersih yang bersumber langsung dari alam, dikenal sebagai geologic hydrogen atau gold hydrogen.

“Yang paling menarik lagi, satu kilogram hidrogen bisa menghasilkan 40 kilo watt hour, artinya ini adalah pembakaran yang sangat bagus,” pungkas Muharram.