(Vibizmedia – Jakarta) Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia terus berlanjut hingga April 2026, meski di tengah tekanan geopolitik dan geoekonomi global. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan periode Januari–April 2026 mencapai USD5,64 miliar.
Dengan capaian tersebut, Indonesia telah membukukan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa surplus ini terutama didorong oleh kinerja positif sektor nonmigas yang terus berlanjut, sementara sektor migas masih mengalami defisit.
“Hingga April 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD5,64 miliar. Surplus periode Januari–April 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD14,16 miliar, sementara komoditas migas mengalami defisit USD8,52 miliar,” ujar Pudji, seperti dikutip dari InfoPublik, Rabu (3/6/2026).
Nilai ekspor Indonesia secara kumulatif pada periode Januari–April 2026 mencapai USD75,57 miliar. Tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India, dengan kontribusi gabungan sebesar 44,52 persen dari total ekspor nonmigas.
Tiongkok tetap menjadi pasar terbesar dengan nilai ekspor mencapai USD22,76 miliar (25,93 persen), disusul Amerika Serikat sebesar USD10,17 miliar (11,59 persen), dan India sebesar USD6,14 miliar (7,00 persen).
Ekspor nonmigas ke Tiongkok didominasi oleh komoditas besi dan baja, nikel dan produk turunannya, serta bahan bakar mineral. Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, serta pakaian dan aksesorinya (rajutan).
Surplus perdagangan nonmigas pada periode Januari–April 2026 terutama ditopang oleh lima komoditas utama, yakni lemak dan minyak hewan/nabati (USD11,71 miliar), bahan bakar mineral (USD8,34 miliar), besi dan baja (USD5,71 miliar), nikel dan produk turunannya (USD4,26 miliar), serta alas kaki (USD2,14 miliar).
Di sisi lain, nilai impor Indonesia hingga April 2026 tercatat sebesar USD86,51 miliar, meningkat 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas masih menjadi penyumbang utama dengan nilai USD73,58 miliar atau naik 12,70 persen.
“Sementara itu, impor migas mencapai USD12,93 miliar atau meningkat 17,58 persen. Berdasarkan penggunaannya, terjadi peningkatan impor pada barang modal, bahan baku/penolong, serta barang konsumsi selama periode Januari–April 2026,” jelas Pudji.
Impor bahan baku/penolong masih mendominasi dengan nilai USD61,82 miliar atau naik 11,67 persen. Adapun impor barang modal tercatat USD17,01 miliar (naik 19,02 persen), sementara impor barang konsumsi mencapai USD7,58 miliar atau tumbuh 15,68 persen.
Sepanjang periode tersebut, Tiongkok menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia dengan nilai USD30,79 miliar (41,84 persen), diikuti Jepang dan Australia masing-masing sebesar USD4,15 miliar (5,64 persen). Kontribusi ketiga negara ini mencapai 53,12 persen dari total impor nonmigas Indonesia.









