(Vibizmedia – Gaya Hidup) Pengalaman sebagai flying journalist dari Indonesia untuk meliput IFEX Philippines 2026, membawa banyak kesenangan sekaligus kebanggaan buat saya. Selain menghadiri dan meliput pameran makanan dan minuman terbesar di Filipina ini, panitia mengajak para chef pengisi acara dan sejumlah jurnalis internasional menikmati makan malam di Cabel Filipino Heritage Restaurant. Sebuah restoran yang berlokasi tepat di seberang kompleks Istana Malacañang, kediaman resmi Presiden Filipina.
Perjalanan menuju kawasan San Miguel membawa kami keluar dari hiruk-pikuk area bisnis Metro Manila menuju lingkungan yang sarat sejarah. Di tengah kawasan tersebut berdiri sebuah rumah bergaya kolonial yang elegan. Dari luar, bangunan itu lebih menyerupai rumah keluarga bangsawan Filipina dibanding sebuah restoran modern.
Begitu memasuki ruangan, suasana hangat langsung terasa ketika pelayan menyambut dengan ramah. Dinding-dinding tinggi, dekorasi bernuansa heritage, koleksi foto keluarga, serta pencahayaan yang lembut menghadirkan kesan seolah sedang bertamu ke rumah seorang kerabat.

Malam itu, kami yang berasal dari berbagai negara duduk bersama dalam satu meja bundar. Di sela-sela santap malam, percakapan mengalir menceritakan pengalaman masing-masing selama mengikuti IFEX Philippines 2026. Namun, daya tarik malam itu tentu saja hidangan yang disajikan.
Cabel bukan restoran Filipina biasa. Restoran ini menempati bangunan bersejarah yang dahulu dikenal sebagai Casa Roces, salah satu rumah heritage paling terkenal di Manila. Kini bangunan tersebut dikelola keluarga Cabel Moreno dan dihidupkan kembali dengan konsep yang mengangkat keragaman kuliner Filipina.
Di balik kesuksesan Cabel, ada Chef Miguel “Miggy” Cabel Moreno, seorang chef sekaligus pegiat budaya kuliner yang dikenal luas karena upayanya memperkenalkan masakan Mindanao kepada publik Filipina dan dunia internasional.
Melalui Cabel, Miggy Moreno menghadirkan hidangan dari berbagai wilayah kepulauan Filipina. Tidak hanya menu yang sudah populer seperti adobo atau lechon, tetapi juga sajian khas dari Sulu, Basilan, Zamboanga, dan Tawi-Tawi yang jarang ditemukan di restoran Manila.

Setiap hidangan yang tersaji malam itu bukan sekadar makanan, melainkan representasi sejarah dan identitas budaya dari daerah asalnya. Salah satu menu yang disajikan malam itu adalah Chicken Piyanggang, menu andalan Cabel. Chicken Piyanggang (Piyanggang Manok) adalah hidangan yang berasal dari tradisi kuliner Tausug di Sulu dan Mindanao Selatan, wilayah yang menjadi akar keluarga Cabel Moreno.
Yang membuatnya unik adalah penggunaan kelapa bakar yang dihaluskan, kunyit, serai, jahe, cabai, dan santan. Ayam dimasak perlahan hingga bumbu meresap, menghasilkan warna gelap khas serta rasa yang kaya, sedikit smoky, gurih, dan aromatik. Filosofi seperti inilah yang membuat pengalaman bersantap di Cabel terasa berbeda.
Keistimewaan restoran ini semakin lengkap karena lokasinya yang berada tepat di depan pusat pemerintahan Filipina. Dari jendela restoran, pengunjung dapat merasakan atmosfer kawasan bersejarah yang selama puluhan tahun menjadi saksi perjalanan politik negara tersebut.
Bagi saya, makan malam di Cabel menjadi salah satu pengalaman berkesan selama mengikuti IFEX Philippines 2026. Di tempat ini, kuliner, sejarah, dan budaya bertemu dalam satu ruang yang sama.
Cabel membuktikan bahwa makanan dapat menjadi medium yang kuat untuk menceritakan sebuah bangsa. Melalui tangan Chef Miguel Cabel Moreno, warisan kuliner Filipina tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diperkenalkan kepada generasi baru dan para tamu dari berbagai negara.

Sebelum meninggalkan restoran, kami berfoto bersama Chef Miggy Moreno—sebuah momen kecil yang merangkum malam penuh cerita tentang rasa dan warisan budaya Filipina. Merindukan kapan bisa berkunjung kembali untuk menikmati makan malam Istimewa di Cabel Filipino Heritage Restaurant yang legend ini.









